Sabtu, 22 Mei 2010

The First...

,
Spiritual Motivation Training (SMT). Yups. Ini kedua kalinya aku menjadi panitia semenjak jadi mahasiswa di UPI ini. Sebenarnya ini karena utusan teh Millati yang mendelegasikan aku menjadi panitia disini, sebagai Koor. Danus, karena mungkin harus dari anak-anak dari departemen Keuangan. Pertama kalinya menjadi danus, kepala divisinya pula. Gugup, harus melakukan apa. Karena danus itu tugasnya cari uang, yang terpikir saat itu untuk jualan. Dan tahukah, jualan juga pengalaman pertama aku. Tambah bingung, mau jualan apa. Berpikir keras. Ayooo.. berpikir keras.
 Akhirnya aku minta bantuan ke teman ngajiku. Ternyata baru sadar, sekeliling rumah banyak yang jualan juga. Hehe. Proyek pertama, jualan di kelas-kelas dengan bantuan orang-orang pastinya. Sasaran waktu itu, karena belum ada adek tingkat, ya kakak tingkat. Jadi hanya angkatan 2009 dan 2008. Kebetulan anak keuangan juga ada dari kelas 2009 C, jadi aku minta tolong untuk jualan di kelasnya. Tidak usah teriak “ayooo beli-beli” dikelilingkan saja jualannya, kursi demi kursi, uangnya ditaruh di tempat jualan deh. Untuk kelas A, banyak panitia lain SMT yang berasal dari kelas A, jadi tidak begitu susah untuk minta tolong. Begitu pun di kelas B. Yang memusingkan di 2008. Kenalan nya masih kelas A dan C, karena ada teh Millati dan staff keuangan yang 2008 lainnya, teh Khaerani. Dan kelas B akhirnya terpaksa minta bantuan teh Gia meski ga enak ngerepotin. Hehe. Sebenarnya lupa, aku minta bantuan ke siapa aja. Yang pasti asa riweh sendiri. Lupa, ternyata masih ada staff yang menunggu aku untuk diperintah. Disana aku baru ‘ngeh’ dalam kepanitian, tidak ada yang palig capek, atau yang paling santai, semua kerja sama-sama demi menyukseskan acara.
Akhirnya setelah aku sadar dari kepingsananku, aku dengan staff mulai bagi-bagi tugas. Waktu itu yang aku ingat, staff aku ada Evi, Nabila, Eka, Noor Ajizah (maaf ya, kalau ada yang belum kesebut.beneran lupa, hehe). Tapi yang aktif membantu Evi dan Nabila, mungkin faktor sekelas, jadi yang sering minta bantuan ya ke mereka berdua. Selain memikirkan barang apa yang mau fijual, aku juga mesti cek jadwal kuliah masing-masing kelas dan dimana.
Korban-korban yang aku jual adalah donat dari tetangga, hehe. Tapi untuk jualan donat ini penuh perjuangan, karena jam setengah 7, saat aku mau ambil, donatnya belum pada jadi. Hiks. Padahal paling laku. Jadi kadang aku bantuin bunkusin tuh, tapi ga sampai bantuin bikin donatnya. Hehe, bisa-bisa sekarang aku jadi juragan donat nih. Whahaha.
Korban selanjutnya brownies tetangga yang terkenalnya hanya di daerah aku aja. Jadi aku bantuin tuh, biar terkenalnya sampai Setiabudi. Haha. Nah, karena ini sudah profesional, jadi aku datang jam 6 pagi pun, udah siap sedia tuh, untuk dijualin.
Korban baru aku, yaitu kaos kaki. Lho? Iya, meskipun kaos kaki ini bukan barang yang sekali habis, tapi karena UPI ini berkaos kaki semua, jadi adaaa aja yang beli kaos kaki aku. Apalagi warnanya ngejreng gimanaa gitu. 3 lusin bisa habis dalam seminggu, meski nyari sasaran pembelinya ga maksimal. (harusnya sih mejeng di tiap fakultas,”teeeh.. kaos kakinya?? Aa... kaos kakinya?? Anti bau lhoo...” -___- sudahlaaaa lupakan imajinasi konyol itu
Lanjut, ada kenalan baru nih, donat depan DT, waktu itu si donat jadi artis. Dan tahu gak sih? Donat itu ngambil dari padasuka, deket rumah aku duonkkk.. hadeuh. Tapi nyari-nyari sampai sekarang tetep aja ga pernah ketemu. Kan lumayan, bisa lebih murah. Dan mungkin aja bisa jadi distributornya. Distributorin ke toko-toko kueh yang terkenal, atau ke travel-travel pariwisata (usul dari kang Okto saat masih aktif di LEPPIM)
Beruntung punya teman bisa masak, saat itu seblak juga jadi makanan terkenal, nah Rini menawarkan kerjasama. Akhirnya aku pesan seblak ke dia untuk dijual. Pedesnya ajib deh. Malah aku yang lebih sering untuk beli seblaknya. Hehe. Penjual yang konsumtif nih. Kangen seblaaaak.. :(
Terus, ada lagi nih, Nabil juga bikin sesuatu (sebenarnya mamahnya yang bikin, dia Cuma membantu. Hehe) pisang kejuuuu..
Terus, snack kiloan yang dibungkusin.
Jualan seperti ini terus, mau dapat untung berapa nih?? Kapan nih sampai dapat uang yang bisa membantu kurangnya dana SMT. Jualan seperti ini satuannya untung hanya Rp. 100- Rp. 500. Untungnya tidak seberapa, tapi capeknya luar biasa. Tiap hari harus datang sebelum jam 7 , padahal kuliahnya siang, bahkan sore. Akhirnya berfikir keras lagi, ga mungkin hanya mengandalkan jualan di kelas saja. Akhirnya sebagian dititipkan ke penjual depan fotokopi Jica, meski untungnya makin berkurang. Jualan yang maksimal hanya seminggu lebih. Dan alhamdulillah untungnya sampai Rp. 500.000
Berfikir keras lagi, dan selalu berfikir, hehe. Tiap ada kegiatan di HMK, selalu nitip jualan. Jadi bisa terbantu laaah. Salah satunya saat Gebyar HMK, laku beraaat tuh. Dan saat itu juga, aku terjebak. Ternyata aku dimasukkan kepanitiaan Gebyar HMK tanpa aku ketahui jadi danus pula, tapi jadi staffnya. Jadi akhirnya membantu saat hari H-nya saja. Jualan yang aku pegang dari SMT akhirnya dilebur dengan jualan Gebyar, dan keuntungannya dibagi 2. Jadi dalam 2 acara, 2 kepanitian, aku tetap bisa menjalankan tugas dalam waktu bersamaan. Namun, di gebyar, aku hanya membantu dalam strategi jualan dan hitung-hitungan laba. Kalau masalah barang jualannya apa, itu urusan teh Rani. Hhehe. Meski aku bantunya hanya di hari H, tapi aku tetap dianggap sebagai panitia, seengganya Ketua pelaksananya tau nama aku. Ketua pelaksana yang luar biasa, menurut aku, ketua yang tau seluruh nama juga wajah panitianya. Padahal, sebelumnya belum pernah bertemu, sip, hebat deh kang Argit Muktiawan. :D(lihat juga Gebyar HMK terGebyar )
Lanjut ke SMT. Di SMT pun, kami mempunyai ketua yang luar biasa juga ko, Indra Saepul Alam. Waktu itu aku menghitung peluang, sepertinya jualan saat UM (Ujian Masuk UPI), seru juga. Akhirnya aku minta tolong ke semua panitia SMT untuk membantu jualan saat UM melalui sang ketua. Dan permintaan ketua ke panitia lainnya, terkesan memaksa (padahal aku gak maksa lhoo.. haha, Indranya aja itu mah ), karena setiap ada panitia yang bilang “ga bisa”, diintrogasi tuh, kenapa ga bisa. Memang butuh bala bantuan yang banyak. Karena rencananya akan ada 7 grup yang disebar tiap fakultas. Gak mungkin kan aku sendiri bersama staff danus yang berjualan keliling UPI dari pagi sampai siang???
Akhirnya ada yang membantu juga.. rencana sesuai. Ada 7 grup, masing-masing grup ada yang seorang sampai 3 orang (yang membantu tidak cukup banyak, karena kebutulan saat UM kuliah libur, jadi sebagian ada yang milih tuk diam dikosan.hiks). Depan Jica kami siap-siap tuh, dari mulai barang jualannya yang dibagi-bagi jadi 7, masuk-masukin ke kardus minumannya, heboh deh. Bicara tentang minuman, jadi teringat malam sebelum UM. Jadi aku nunggu jemputan ortu yang bawa kardus minuman. Saat sampai, aku minta tolong ke kakak tingkat yang mejeng di depan Jica untuk bawain kardus- kardus ini ke kosan Fina. Seneng deh, tapi ga enak juga bikin mereka bawa-bawa kardus yang berat dari Jica sampai kosan deket pandan wangi. Makasih ya, kang abdul, kang desun, yang aku inget, yang agak remang-remang----> kang latif dan Indra (maaf ya, kalau ada yang namanya ga kesebut atau malah kesebut. Hehe)
Balik lagi ke pagi hari UM, sebenarnya agak telat, jam 8 baru mulai berkeliling disaat orang-orang yang mau Ujian dah masuk kelas. Tapi ada satu kejadian yang membuat untung besar. Jadi pagi-pagi yang di depan jica itu, ada pembeli pertama. Dia beli donat, nanya berapa harganya, “seribu lima ratus Pak”, ucap Tyas. Aku kaget, karena biasanya kalau dijual di kelas- kelas, donat itu harganya seribu. Tapi karena terlanjur, ya sudah berkelanjutan. Akhirnya kami sepakat untuk jual donat Rp 1500, harga jualan yang lain, disamakan seperti hari-hari biasa. (dalam pikiran aku, gmana kalau ga laku? Huwaaa)
Dan kami pun beraksi!! Aku sendiri yang berjualan di fakultas FPBS. Semoga beruntung! (beruntung ga diusir satpam, beruntung ada pembeli, beruntung jadi untung—laba maksudnya. Hehe) wah- wah.. sasaran aku ibu-ibu yang mejeng ditaman nunggu anaknya ujian. “ibu donatnya?” “ibu kuenya”.. ga ada yang beli. Miris. Padahal udah keluarkan senyum termanis nih sampai diserang sama semut. Setelah duapuluh menit aku jalan- jalan ga jelas menawarkan jualan ke ibu- ibu yang hanya jawab “ ga De, makasih (maksa pengen dikasih.hehe)”, akhirnya ada juga yang berkata selain “ga De, makasih”. Howre!! Pembeli pertama. Daaaan.. ibu-ibu yang sebelumnya bilang “ga De, makasih”, malah ngedeketi, dan akhirnya ikutan beli juga. Assseeeeek dah. Memang harus ada yang mengawali! Dari sana lancar tuh, jualannya.
Lihat kanan kiri, takut ketahuan satpam, akhirnya aku bisa nerobos FPBS nih. Hehe, mendadak serasa buronan nih. Masuknya pun bukan lewat pintu utama, tapi tangga dari arah parkiran bawah gedung. Cari yang mejeng diluar nih. Akhirnya dapat pembeli, kebetulan si ibu itu bawa anak, dan anaknya beli yang mahal pula. Asik. Jadi pembeli serasa jadi raja, dan penjual, serasa jadi b***, ngikutin kemauan pembelinya. Hehe. Naaaah. Ada juga nih pembeli yang aktif bicara (red: cerewet) ada juga yang baaaaaik banget, “udah, kembaliannya buat neng aja”. Nah ada pembeli yang nanya-nanya “ini apa?”, “ itu apa”, “ade tingkat berapa”, “wah, mandiri ya mahasiswa sekarang” (demiii uang buuu T-T). Kebutulan ada ibu yang nanya seblak, “ini apaan?” , “seblak bu, obat anti ngantuk mahasiswa”, “haha, ko bisa?” , “iya bu, kan seblak ini pedes, jadi cocok dimakan disiang-siang saat ada kuliah, jadi melek terus gitu buuu”. “waaah..kreatif coba deh, beli satu, ibu mau?” nanya kesebelahnya, dan akhirnya seblaknya lakuuuu. (gara-gara ini nih, aku mendadak jadi penggombal -____-)
Hal yang memalukan, yaitu nawarin lagi ke orang yang udah beli dagangan aku. “bu, donatnya?” , “kan tadi udah,, sama ade lagi belinya”, “oh, udah? Lupa bu, Ya ga papa beli lagi atuh buu..” aduuuuuh malu. Selain itu aku ketemu tuh, ama temen yang lain yang bertugas di FPIPS. Dan pembelinya bingung, mau beli ke siapa. Haha. Padahal mah sama aja. Dan alhamdulilaaaah.. dagangan aku habis! Aye! Bagaimana nih kabar yang lain??
Jam 10an, setelah aku beres berjualan sampai habis, aku pergi untuk nyebar proposal ke rumah zakat. Hanya proposal saja yang aku bawa. (kesalahan aku, ga nanya-nanya dulu nih). Akhirnya aku berangkat naik bis. Alamatnya sih di pasteur, tapi tepatnya dimana, aku ga tau. Hehe. Nyasar-nyasar deh. Beberapa menit kemudian sampai tuh di perempatan pasteur yang dekat R.S. Hasan Sadikin. Turun dimana ya? Akhirnya aku turun di setelah perempatan. Orang Bandung, tapi aku belum pernah menjelajahi jalanan Bandung sendiri, biasanya diantar bapak. Alhasil, linglung deh. Nanya ke orang-orang, “Pak, Rumah Zakat dimana ya?” meski ada no-nya, tapi karena aku guup, jadi ngikut aja apa kata orang. Ternyataaaa.. yang dikasih tahu orang bukan rumah zakat, tapi dompet duafa. Huwaaa. Makin menjauh dari R.S Hasan Sadikin. Setelah diteliti, mungkinkan no ini daerah R.S. Hasan Sadikin? Akhirnya aku berjalan kembali ke perempatan, dan nyebrang. Dan ternyata benar, depannya R.S. Hasan Sadikin. Papan segede ini, kenapa ga terlihat ya? Hadeuh.
Belum lengkap penderitaanku, ternyata kata sang ketua, harus dilampiri surat pengantarnya kalau mau ngasih proposal. Heu. Maklumlah, pemula, pertama kali, tapi kenapa aku ga nanya atuuuuh?? Jadinya nunggu deh, nunggu Indra datang buat nganterin tu surat. Lamaaaaaaaaaaaaa banget. Naik becak gitu? Atau dandan dulu? Meuni lama. Hiks. Bagai orang hilang, nunggu pinggir jalan. Luntang lantung ga jelas. Panas pula. Kadang berdiri, kadang jongkok. Mungki karena aku mukanya penuh dikasihani, tukang selontongan nyuruh aku duduk di tokonya. Yeah, dapet tempat duduk. Karena ga enak, terlalu lama, jadi aku nunggu di depan rumah Zakatnya, di kayu jelek gitu deh. Akhirnya Indra datang. Howre!! Dan kami pun berdua masuk (eh, berdua atau aku aja sih? Lupa). Pulangnya? Ya masing-masing. Indra dengan motornya, aku ya naek angkot. Sekitar jam setengah 3an, ga tau jam 2, aku kembali ke Jica, nengok teman-teman dan dagangan.
Alhamdulillaaaaaah.. donat habis. Yang masih sisa brownies sama minuman, kalau ga salah. Minuman sih bisa dijual lagi. Dari sini, aku denger- denger tuh, cerita anak- anak pengalaman saat jualan. Yang aku masih inget, rombongannya Cahya ama Rati. Tampilan mereka jualan ternyata pengaruh ke laku-tidaknya. Haha. Jadi katanya, saat bawa-bawa jualan, Cahya kan ga berekspresi, terus Rati tampilan tomboy, jadi pembeli bingung, mungkin takut juga. Tapi setelah gabung ama grup yang lain, akhirnya laku juga. Haha. Koreksi ya, takut salah cerita.
Yeah, dan hari H pun tiba, SMT, susah payah cari dana, susah pula cari peserta. Dengan pemateri yang luar biasa, yang pasti bayarannya pun ga biasa, sayang pesertanya sedikit. Padahal materinya bagus, tempatnya juga bagus. Dengan modal Rp. 500.000 dari BEM untuk acara ginian, alhamdulillah acaranya sukses. Dan aku pun senang, untuk pertama kalinya jadi koordinator danus, bisa membantu keuangan SMT dengan untung Rp. 1.000.000 kurang dikit :D hanya dengan jualan saja dan modal awalnya hanya Rp. 50.000. Pertama kali. Ya pertama kali. Meski capek, tapi terbayar dengan pengalaman-pengalaman baru yang aku dapat dikepanitian ini. Yang biasanya aku sebagai pembeli yang suka tawar-menawar, akhirnya aku merasakan juga jadi penjual yang ditawar-tawari oleh pembeli. Haha. Ternyata jualan itu susah gampang-gampang. Hehe. Semoga jadi manfaat untuk teman-teman yang pertama kali terjun di kepanitian. Hehe, sebagai langkah awal menghadapi dunia luar sana. SEMANGAT!!

0 komentar to “The First...”

Posting Komentar

 

MaMah (Mahasiswa musliMah) punya cerita Copyright © 2011 | Template design by O Pregador | Powered by Blogger Templates