Spiritual Motivation Training
(SMT). Yups. Ini kedua kalinya aku menjadi panitia semenjak jadi mahasiswa di
UPI ini. Sebenarnya ini karena utusan teh Millati yang mendelegasikan aku
menjadi panitia disini, sebagai Koor. Danus, karena mungkin harus dari
anak-anak dari departemen Keuangan. Pertama kalinya menjadi danus, kepala
divisinya pula. Gugup, harus melakukan apa. Karena danus itu tugasnya cari
uang, yang terpikir saat itu untuk jualan. Dan tahukah, jualan juga pengalaman
pertama aku. Tambah bingung, mau jualan apa. Berpikir keras. Ayooo.. berpikir
keras.
Akhirnya aku minta bantuan ke teman ngajiku. Ternyata
baru sadar, sekeliling rumah banyak yang jualan juga. Hehe. Proyek pertama,
jualan di kelas-kelas dengan bantuan orang-orang pastinya. Sasaran waktu itu,
karena belum ada adek tingkat, ya kakak tingkat. Jadi hanya angkatan 2009 dan
2008. Kebetulan anak keuangan juga ada dari kelas 2009 C, jadi aku minta tolong
untuk jualan di kelasnya. Tidak usah teriak “ayooo beli-beli” dikelilingkan
saja jualannya, kursi demi kursi, uangnya ditaruh di tempat jualan deh. Untuk kelas
A, banyak panitia lain SMT yang berasal dari kelas A, jadi tidak begitu susah
untuk minta tolong. Begitu pun di kelas B. Yang memusingkan di 2008. Kenalan nya
masih kelas A dan C, karena ada teh Millati dan staff keuangan yang 2008
lainnya, teh Khaerani. Dan kelas B akhirnya terpaksa minta bantuan teh Gia
meski ga enak ngerepotin. Hehe. Sebenarnya lupa, aku minta bantuan ke siapa
aja. Yang pasti asa riweh sendiri. Lupa, ternyata masih ada staff yang menunggu
aku untuk diperintah. Disana aku baru ‘ngeh’ dalam kepanitian, tidak ada yang
palig capek, atau yang paling santai, semua kerja sama-sama demi menyukseskan
acara.
Akhirnya setelah aku sadar dari
kepingsananku, aku dengan staff mulai bagi-bagi tugas. Waktu itu yang aku
ingat, staff aku ada Evi, Nabila, Eka, Noor Ajizah (maaf ya, kalau ada yang
belum kesebut.beneran lupa, hehe). Tapi yang aktif membantu Evi dan Nabila,
mungkin faktor sekelas, jadi yang sering minta bantuan ya ke mereka berdua. Selain
memikirkan barang apa yang mau fijual, aku juga mesti cek jadwal kuliah masing-masing
kelas dan dimana.
Korban-korban yang aku jual
adalah donat dari tetangga, hehe. Tapi untuk jualan donat ini penuh perjuangan,
karena jam setengah 7, saat aku mau ambil, donatnya belum pada jadi. Hiks. Padahal
paling laku. Jadi kadang aku bantuin bunkusin tuh, tapi ga sampai bantuin bikin
donatnya. Hehe, bisa-bisa sekarang aku jadi juragan donat nih. Whahaha.
Korban selanjutnya brownies
tetangga yang terkenalnya hanya di daerah aku aja. Jadi aku bantuin tuh, biar
terkenalnya sampai Setiabudi. Haha. Nah, karena ini sudah profesional, jadi aku
datang jam 6 pagi pun, udah siap sedia tuh, untuk dijualin.
Korban baru aku, yaitu kaos
kaki. Lho? Iya, meskipun kaos kaki ini bukan barang yang sekali habis, tapi
karena UPI ini berkaos kaki semua, jadi adaaa aja yang beli kaos kaki aku. Apalagi
warnanya ngejreng gimanaa gitu. 3 lusin bisa habis dalam seminggu, meski nyari
sasaran pembelinya ga maksimal. (harusnya sih mejeng di tiap fakultas,”teeeh..
kaos kakinya?? Aa... kaos kakinya?? Anti bau lhoo...” -___- sudahlaaaa lupakan
imajinasi konyol itu
Lanjut, ada kenalan baru nih,
donat depan DT, waktu itu si donat jadi artis. Dan tahu gak sih? Donat itu
ngambil dari padasuka, deket rumah aku duonkkk.. hadeuh. Tapi nyari-nyari sampai
sekarang tetep aja ga pernah ketemu. Kan lumayan, bisa lebih murah. Dan mungkin
aja bisa jadi distributornya. Distributorin ke toko-toko kueh yang terkenal,
atau ke travel-travel pariwisata (usul dari kang Okto saat masih aktif di
LEPPIM)
Beruntung punya teman bisa
masak, saat itu seblak juga jadi makanan terkenal, nah Rini menawarkan
kerjasama. Akhirnya aku pesan seblak ke dia untuk dijual. Pedesnya ajib deh. Malah
aku yang lebih sering untuk beli seblaknya. Hehe. Penjual yang konsumtif nih. Kangen
seblaaaak.. :(
Terus, ada lagi nih, Nabil juga
bikin sesuatu (sebenarnya mamahnya yang bikin, dia Cuma membantu. Hehe) pisang
kejuuuu..
Terus, snack kiloan yang
dibungkusin.
Jualan seperti ini terus, mau
dapat untung berapa nih?? Kapan nih sampai dapat uang yang bisa membantu
kurangnya dana SMT. Jualan seperti ini satuannya untung hanya Rp. 100- Rp. 500.
Untungnya tidak seberapa, tapi capeknya luar biasa. Tiap hari harus datang
sebelum jam 7 , padahal kuliahnya siang, bahkan sore. Akhirnya berfikir keras
lagi, ga mungkin hanya mengandalkan jualan di kelas saja. Akhirnya sebagian
dititipkan ke penjual depan fotokopi Jica, meski untungnya makin berkurang. Jualan
yang maksimal hanya seminggu lebih. Dan alhamdulillah untungnya sampai Rp.
500.000
Berfikir keras lagi, dan selalu
berfikir, hehe. Tiap ada kegiatan di HMK, selalu nitip jualan. Jadi bisa
terbantu laaah. Salah satunya saat Gebyar HMK, laku beraaat tuh. Dan saat itu
juga, aku terjebak. Ternyata aku dimasukkan kepanitiaan Gebyar HMK tanpa aku
ketahui jadi danus pula, tapi jadi staffnya. Jadi akhirnya membantu saat hari
H-nya saja. Jualan yang aku pegang dari SMT akhirnya dilebur dengan jualan
Gebyar, dan keuntungannya dibagi 2. Jadi dalam 2 acara, 2 kepanitian, aku tetap
bisa menjalankan tugas dalam waktu bersamaan. Namun, di gebyar, aku hanya
membantu dalam strategi jualan dan hitung-hitungan laba. Kalau masalah barang
jualannya apa, itu urusan teh Rani. Hhehe. Meski aku bantunya hanya di hari H,
tapi aku tetap dianggap sebagai panitia, seengganya Ketua pelaksananya tau nama
aku. Ketua pelaksana yang luar biasa, menurut aku, ketua yang tau seluruh nama
juga wajah panitianya. Padahal, sebelumnya belum pernah bertemu, sip, hebat deh
kang Argit Muktiawan. :D(lihat juga Gebyar HMK terGebyar )
Lanjut ke SMT. Di SMT pun, kami
mempunyai ketua yang luar biasa juga ko, Indra Saepul Alam. Waktu itu aku
menghitung peluang, sepertinya jualan saat UM (Ujian Masuk UPI), seru juga. Akhirnya
aku minta tolong ke semua panitia SMT untuk membantu jualan saat UM melalui
sang ketua. Dan permintaan ketua ke panitia lainnya, terkesan memaksa (padahal
aku gak maksa lhoo.. haha, Indranya aja itu mah ), karena setiap ada panitia
yang bilang “ga bisa”, diintrogasi tuh, kenapa ga bisa. Memang butuh bala
bantuan yang banyak. Karena rencananya akan ada 7 grup yang disebar tiap
fakultas. Gak mungkin kan aku sendiri bersama staff danus yang berjualan
keliling UPI dari pagi sampai siang???
Akhirnya ada yang membantu
juga.. rencana sesuai. Ada 7 grup, masing-masing grup ada yang seorang sampai 3
orang (yang membantu tidak cukup banyak, karena kebutulan saat UM kuliah libur,
jadi sebagian ada yang milih tuk diam dikosan.hiks). Depan Jica kami siap-siap
tuh, dari mulai barang jualannya yang dibagi-bagi jadi 7, masuk-masukin ke
kardus minumannya, heboh deh. Bicara tentang minuman, jadi teringat malam
sebelum UM. Jadi aku nunggu jemputan ortu yang bawa kardus minuman. Saat sampai,
aku minta tolong ke kakak tingkat yang mejeng di depan Jica untuk bawain
kardus- kardus ini ke kosan Fina. Seneng deh, tapi ga enak juga bikin mereka
bawa-bawa kardus yang berat dari Jica sampai kosan deket pandan wangi. Makasih ya,
kang abdul, kang desun, yang aku inget, yang agak remang-remang----> kang
latif dan Indra (maaf ya, kalau ada yang namanya ga kesebut atau malah kesebut.
Hehe)
Balik lagi ke pagi hari UM,
sebenarnya agak telat, jam 8 baru mulai berkeliling disaat orang-orang yang mau
Ujian dah masuk kelas. Tapi ada satu kejadian yang membuat untung besar. Jadi pagi-pagi
yang di depan jica itu, ada pembeli pertama. Dia beli donat, nanya berapa
harganya, “seribu lima ratus Pak”, ucap Tyas. Aku kaget, karena biasanya kalau
dijual di kelas- kelas, donat itu harganya seribu. Tapi karena terlanjur, ya
sudah berkelanjutan. Akhirnya kami sepakat untuk jual donat Rp 1500, harga
jualan yang lain, disamakan seperti hari-hari biasa. (dalam pikiran aku, gmana
kalau ga laku? Huwaaa)
Dan kami pun beraksi!! Aku sendiri
yang berjualan di fakultas FPBS. Semoga beruntung! (beruntung ga diusir satpam,
beruntung ada pembeli, beruntung jadi untung—laba maksudnya. Hehe) wah- wah.. sasaran
aku ibu-ibu yang mejeng ditaman nunggu anaknya ujian. “ibu donatnya?” “ibu
kuenya”.. ga ada yang beli. Miris. Padahal udah keluarkan senyum termanis nih
sampai diserang sama semut. Setelah duapuluh menit aku jalan- jalan ga jelas menawarkan
jualan ke ibu- ibu yang hanya jawab “ ga De, makasih (maksa pengen
dikasih.hehe)”, akhirnya ada juga yang berkata selain “ga De, makasih”. Howre!!
Pembeli pertama. Daaaan.. ibu-ibu yang sebelumnya bilang “ga De, makasih”,
malah ngedeketi, dan akhirnya ikutan beli juga. Assseeeeek dah. Memang harus
ada yang mengawali! Dari sana lancar tuh, jualannya.
Lihat kanan kiri, takut ketahuan
satpam, akhirnya aku bisa nerobos FPBS nih. Hehe, mendadak serasa buronan nih. Masuknya
pun bukan lewat pintu utama, tapi tangga dari arah parkiran bawah gedung. Cari yang
mejeng diluar nih. Akhirnya dapat pembeli, kebetulan si ibu itu bawa anak, dan
anaknya beli yang mahal pula. Asik. Jadi pembeli serasa jadi raja, dan penjual,
serasa jadi b***, ngikutin kemauan pembelinya. Hehe. Naaaah. Ada juga nih
pembeli yang aktif bicara (red: cerewet) ada juga yang baaaaaik banget, “udah,
kembaliannya buat neng aja”. Nah ada pembeli yang nanya-nanya “ini apa?”, “ itu
apa”, “ade tingkat berapa”, “wah, mandiri ya mahasiswa sekarang” (demiii uang
buuu T-T). Kebutulan ada ibu yang nanya seblak, “ini apaan?” , “seblak bu, obat
anti ngantuk mahasiswa”, “haha, ko bisa?” , “iya bu, kan seblak ini pedes, jadi
cocok dimakan disiang-siang saat ada kuliah, jadi melek terus gitu buuu”. “waaah..kreatif
coba deh, beli satu, ibu mau?” nanya kesebelahnya, dan akhirnya seblaknya
lakuuuu. (gara-gara ini nih, aku mendadak jadi penggombal -____-)
Hal yang memalukan, yaitu
nawarin lagi ke orang yang udah beli dagangan aku. “bu, donatnya?” , “kan tadi
udah,, sama ade lagi belinya”, “oh, udah? Lupa bu, Ya ga papa beli lagi atuh
buu..” aduuuuuh malu. Selain itu aku ketemu tuh, ama temen yang lain yang
bertugas di FPIPS. Dan pembelinya bingung, mau beli ke siapa. Haha. Padahal mah
sama aja. Dan alhamdulilaaaah.. dagangan aku habis! Aye! Bagaimana nih kabar
yang lain??
Jam 10an, setelah aku beres
berjualan sampai habis, aku pergi untuk nyebar proposal ke rumah zakat. Hanya proposal
saja yang aku bawa. (kesalahan aku, ga nanya-nanya dulu nih). Akhirnya aku
berangkat naik bis. Alamatnya sih di pasteur, tapi tepatnya dimana, aku ga tau.
Hehe. Nyasar-nyasar deh. Beberapa menit kemudian sampai tuh di perempatan
pasteur yang dekat R.S. Hasan Sadikin. Turun dimana ya? Akhirnya aku turun di
setelah perempatan. Orang Bandung, tapi aku belum pernah menjelajahi jalanan
Bandung sendiri, biasanya diantar bapak. Alhasil, linglung deh. Nanya ke
orang-orang, “Pak, Rumah Zakat dimana ya?” meski ada no-nya, tapi karena aku
guup, jadi ngikut aja apa kata orang. Ternyataaaa.. yang dikasih tahu orang
bukan rumah zakat, tapi dompet duafa. Huwaaa. Makin menjauh dari R.S Hasan
Sadikin. Setelah diteliti, mungkinkan no ini daerah R.S. Hasan Sadikin? Akhirnya
aku berjalan kembali ke perempatan, dan nyebrang. Dan ternyata benar, depannya
R.S. Hasan Sadikin. Papan segede ini, kenapa ga terlihat ya? Hadeuh.
Belum lengkap penderitaanku,
ternyata kata sang ketua, harus dilampiri surat pengantarnya kalau mau ngasih
proposal. Heu. Maklumlah, pemula, pertama kali, tapi kenapa aku ga nanya
atuuuuh?? Jadinya nunggu deh, nunggu Indra datang buat nganterin tu surat. Lamaaaaaaaaaaaaa
banget. Naik becak gitu? Atau dandan dulu? Meuni lama. Hiks. Bagai orang
hilang, nunggu pinggir jalan. Luntang lantung ga jelas. Panas pula. Kadang berdiri,
kadang jongkok. Mungki karena aku mukanya penuh dikasihani, tukang selontongan
nyuruh aku duduk di tokonya. Yeah, dapet tempat duduk. Karena ga enak, terlalu
lama, jadi aku nunggu di depan rumah Zakatnya, di kayu jelek gitu deh. Akhirnya
Indra datang. Howre!! Dan kami pun berdua masuk (eh, berdua atau aku aja sih? Lupa).
Pulangnya? Ya masing-masing. Indra dengan motornya, aku ya naek angkot. Sekitar
jam setengah 3an, ga tau jam 2, aku kembali ke Jica, nengok teman-teman dan
dagangan.
Alhamdulillaaaaaah.. donat
habis. Yang masih sisa brownies sama minuman, kalau ga salah. Minuman sih bisa
dijual lagi. Dari sini, aku denger- denger tuh, cerita anak- anak pengalaman
saat jualan. Yang aku masih inget, rombongannya Cahya ama Rati. Tampilan mereka
jualan ternyata pengaruh ke laku-tidaknya. Haha. Jadi katanya, saat bawa-bawa
jualan, Cahya kan ga berekspresi, terus Rati tampilan tomboy, jadi pembeli
bingung, mungkin takut juga. Tapi setelah gabung ama grup yang lain, akhirnya
laku juga. Haha. Koreksi ya, takut salah cerita.
Yeah, dan hari H pun tiba, SMT,
susah payah cari dana, susah pula cari peserta. Dengan pemateri yang luar
biasa, yang pasti bayarannya pun ga biasa, sayang pesertanya sedikit. Padahal materinya
bagus, tempatnya juga bagus. Dengan modal Rp. 500.000 dari BEM untuk acara
ginian, alhamdulillah acaranya sukses. Dan aku pun senang, untuk pertama
kalinya jadi koordinator danus, bisa membantu keuangan SMT dengan untung Rp.
1.000.000 kurang dikit :D hanya dengan jualan saja dan modal awalnya hanya Rp.
50.000. Pertama kali. Ya pertama kali. Meski capek, tapi terbayar dengan
pengalaman-pengalaman baru yang aku dapat dikepanitian ini. Yang biasanya aku
sebagai pembeli yang suka tawar-menawar, akhirnya aku merasakan juga jadi
penjual yang ditawar-tawari oleh pembeli. Haha. Ternyata jualan itu susah
gampang-gampang. Hehe. Semoga jadi manfaat untuk teman-teman yang pertama kali
terjun di kepanitian. Hehe, sebagai langkah awal menghadapi dunia luar sana. SEMANGAT!!





