Hari ini, em...
mungkin hari yang biasa menurut orang-orang.
15 Agustus,
hari dimana mamah berjuang mati-matian untuk kontraksi agar perut buncitnya
mengecil kembali. Dimana mamah menghadapi saat-saat sulit dengan pilihan
dokter, kontraksi atau operasi. Ya, 21 tahun yang lalu, dini hari, pukul 2
pagi, mau tidak mau mamah harus bisa merasakan mules yang biasa dirasakan
seorang wanita yang mau melahirkan. Pilihan lain, operasi, mungkin yang
dimaksud, operasi belah perut kali ya. Tapi tepat pada jam itu, akhirnya perut
itu mengecil tanpa ada goresan pisau di perut.
Pagi ini, seperti biasa bangun sebelum jam 4,
kami sahur bersama. Aku harus tetap ke kampus meski KKN telah usai. Menjalani tugas
sebagai bendahara MOKA-KU tahun ini. Hari ini, tidak ada yang istimewa. Seperti
biasa, aku meng-hide tanggal lahir di FB dari beberapa tahun kemarin, hingga
wall ku ga penuh dengan ucapan-ucapan. Hehehe. Meski itu doa, tapi aku hanya
ingin doa yang tulus, tidak harus menunggu bertapatan dengan tanggal lahir kan,
untuk mendoakan sodaranya? Meski begitu, aku cukup senang karena masih ada yang
ingat tanggal lahirku, dan memberi ucapan lewat SMS. Orangnya? Ada yang aku
kira karena dia selalu memberi ucapan tiap tahunnya, ada orang yang baru karena
memang baru kenal, tapi, sesaat sedih juga, orang yang harapkan ternyata tidak
mengucapkan. Hehe. Tak apa.
Perayaan ulang
tahun, perlukah? Itu adat kaum lain, dan aku gak mau masuk dalam bagiannya. Dan
keluargaku juga gak pernah merayakannya. Dari kecil sampai sekarang. Kadang aku
berfikir, ingatkah mereka dengan tanggal lahir aku? Dulu, kira-kira umur 8
tahun, itu pertama kalinya aku mendapat kue ulang tahun. Dan itu pemberian dari
bibi dan itu dibuat sendiri. Dulu aku masih belum mengerti, yang aku tau, kue
memang harus ada. Namun berjalannya waktu aku mengerti.
Sebenernya hari
ini aku mau menceritakan kejutan yang terjadi. Entahlah, ketika kelas 3 SMA.
sebenernya sebelum-sebelumnya pernah mendapat hadiah dari beberapa teman. Namun
kelas 3 SMA itu, mereka membuat aku nangis di hari itu. Hem.. jujur, aku nangis
bukan karena kejutannya, aku nangis karena aku gak mau memerankan putri salju.
*makin bingung aja nih*. jadi waktu itu, ketika ada tugas B. Inggris, harus
memainkan drama, dan aku di pilih jadi putri salju. Aku gak mau, tapi mereka
memaksa. Andai yang jadi pangeran bukan dia, aku mau. Andai putri salju itu
bisu, aku mau karena aku ga fasih berbahasa inggris. Andai, ya hanya andai. Tapi
mereka memaksa. Anehnya, paksaan mereka kenapa begitu nusuk dalam hati? Kenapa mereka
begitu? Mulai deh, mata panas. Mereka yang juga sahabatku, kecewa, dan
meninggalkan aku di kelas sendiri. Beberapa saat, aku ikut keluar tapi malah
terkunci. Dan kata mereka, kalau aku tetap gak mau, akan terus di kunci di
kelas sampai sore. Akhirnya aku paksa membuka pintu dan ternyata... “selamat
ulang tahun!!!!!” terlihat teman-teman bawa kue saat ku buka pintu. Dan...
banjir deh!
Ketika kuliah,
kejutannya tidak seekstrim sebelumnya ternyata. Karena mereka (teman kuliah)
tidak bisa akting sepertinya. Dua tahun, hanya pemberian kado saja, tanpa
apapun. Dan itu terkesan formalitas. Tak apa.
Orang yang aku
harapkan di tahun ketiga aku kuliah ini, ternyata ia tidak mengucapkan. Mungkin
karena sebelumnya aku pun, sempat lupa mengucapkan. Dia, orang yang selalu
memberi kejutan terindah. Mulai dari tengah malam dia telepon, dan menyanyikan
lagu ultah, dengan datang pagi-pagi ketika aku lagi mengepel teras dan beri aku
kado, indah. Sangat indah. Terimakasih buku metamorfoselfnya, boneka dino yang
aku kira itu boneka kodok, haha, dan kenangan indah selama 15 tahun ini.
Hari ini,
seperti biasa orang-orang sibuk dengan kerjaannya. Lalu lalang masuk dan keluar
sekre. Dan aku pun, demikian. Pak Sopandi, memanggilku, untuk masalah pencairan
uang MOKA-KU. Aku masih belum berani, orang yang aku tunggu untuk menemani,
ternyata sibuk. Okelah, ini tugasku, kenapa harus merepotkan orang lain? Ku langkahkan
kaki sendiri ke Isola lantai 3, berharap ini hari baik. Dan percakapan lumayan
alot, akhirnya aku dan Pak Sopandi pergi ke BAUK. Sebelumnya juga pernah, aku
bernegosisasi dengan direktur keuangan, yaa, meski sempet beliau marah karena
aku terus ngeyel. Dilempar ke bagian ... apa ya? Lupa, yang pasti aku
dihadapkan ke bapak berbadankan dua dan bermata 4. Dan akhirnya aku dilempar
kembali ke bagian anggaran, tapi tak sempat bertemu.
Sekarang, aku
langsung di bawa ke bagian anggaran, karena anggaran yang aku ajukan, mereka
hanya mengabulkan setengahnya, dan aku gak terima. Di sini, aku temukan sosok yang
rupanya tidak asing lagi, tapi ini pertama kalinya aku bertemu, Pak Agus. Akhirnya
aku jelaskan maksud dan tujuan aku. Kami, aku, Pak Sopandi dan Pak Agus berdiskusi
dan menghitung anggaran kembali. Akhirnya setelah memakan waktu yang cukup
panjang, dana yang akan diterima naik sepuluh juta dari dana awal. Dan pada
hari ini juga, uang itu cair. Yah... pertama kalinya aku melihat hampir dua rim
kertas berwarna merah berukuran 7x15cm. Dan aku pun harus menghitung kembali
kertas itu.Wah, ini benar-benar kado ulang tahun yang tidak pernah kusangka
sebelumnya, meski kertas ini bukan milik aku, tapi hasil lobbying sehingga naik
sepuluh juta, itu merupakan hal yang luar biasa.
Tahun ini,
tradisi makan dan beri kado yang biasa dilakukan teman-teman, sudah dihapuskan.
Terasa lega juga. Tidak ada beban karena aku tau, itu salah. Yang pasti, aku
senang ketika dapat ucapan yang bukan karena bagian dari tugas, tapi dari hati
tulus, memberi doa pada sodaranya. Dan aku pun senang, ketika diberi hadiah
tapi bukan karena tradisi yang menjadi keharusan, tapi karena tulis ingin
memberi. Tahun depan, kejutan apa lagi ya? Berharap sih bunga. :D





AAmiin.