Minggu, 23 Desember 2012

Dewa Dewi Pemutilasi Anggaran

,
“you are my syan-syan!!!”ucap manja perempuan yang baru saja genap berumur 21.
Yeah, dia adalah menteri keuangan BEM REMA 2012. Kami dipertemukan dalam organisasi ini, orang yang bergitu ekpresif, supel, baik hati, rajin makan, dan tidak sombong. Awalnya sih rada canggung ketika bertemu di salah satu tempat favorit mahasiswa UPI kalau mau manjaain perut dengan gratisan hotspot. Takut gak bisa kerjasama, klop, dan sebagainya lah. Apalagi dalam hal ngatur uang yang tentunya lebih besar dibanding di himpunan. Dan yang pasti dalam membangun jurusan aku, *chemistry maksudnya :D * biar kompakan saat motong-motong anggaran de el el. Dan ternyata...

Eh, belum memperkenalkan nama ya? Hehehe. Dia adalah Dewi, nama yang begitu pasaran menurut aku, tapi karakternya sulit ditemui. Barang langka nih!*eh :D . sifat dia yang terbuka, banyak orang yang suka padanya, kadang bikin aku cemburu juga. lho? Entah dari mana asal usul sikapnya. Yang pasti kalau dari golongan darah, temen aku yang bergolongan darah sama pun ga separah dia. Hehe. Kesan pertama bertemu mungkin serem, karena karakter wajahnya yang tegas, dan matanya yang gede. Hahaaaha. Tapi kalau dah kenal dia, beuuuuuuuuuh...

Kalau dibandingin aku sama dia ya, gini nih hasilnya.
Galak: orang-orang menilai aku sama Dewi sama-sama galak, 11 12. Jadi ga ada mendingnya. Hehehe. Tapi menurut aku sih, kalau Dewi tergambar galak ketika bicara, suara yang cempreng dan nyolot bikin muncul sifat galaknya. Kalau aku sih karena muka. Judes lah bisa dibilang. Jadi belum juga ngomong dah dicap galak. -__-   --------> tapi... kenyataannya aku dan Dewi itu makhluk halus yang baik hati lhoooo... hahahhaha

Perhitungan: tetep, kata orang-orang gak jauh beda antara aku dan Dewi. Kalau Dewi sih, lebih ke -telitian dan kerasional-an tentang uang yang mau dikeluarkan, tapi dia gak pelit. Royal malah. Nah kalau aku, hahahaha, gak mau rugi. Kalau ada yang lebih murah, ngapain cari yang mahal. Jadi hitung-hitungannya lebih kaya penjual atau pembeli. Hehehe. Kalau kami digabungin. Beuuuuuh,,, iritlah BEM ini.. 

Sama-sama suka : maksudnya hal yang disukainya sama. Sepemikiran. Suka makan. Suka nonton. Suka ngitung uang, eh. Suka apa lagi ya?
Air mata: nah, kalau masalah ginian, Dewi lebih sering bikin banjir sekre. Hehehe. Maksudnya ya dia lebih sering nangis daripada aku. Ini karena dia  lebih banyak masalah, atau dia lebih sensitif, atau caranya tuk ngeringanin masalah, atau akunya aja yang cuek banget jadi jarang nangis ga pernah malah. Hehehe. Disini aku lebih sering minjemin pundak, meski gak setiap waktu juga sih, karena aku orang rumahan sedangkan dia orang kosan. Jadi kalau malam, kami terpisahkan. *Apa siii

Jaim: atau jaga sikap kalinya... untuk masalah ini, Dewi ini orangnya cuek, ga jaim. Jadi heboh deh!!! Dari dia bicara, sampai apa ya? Pokoknya heboh. Kalau aku sih, masih jaim-jaim gitu.. hehehe. Gaya bicaranya pun beda. Yaiyalah. Mungkin karena dia orang Bekasi lebih ke Betawi dan aku orang sunda jadi beda. Dan selama aku kenal Dewi, gaya bicara dia yang kadang ngomong “gue” tanpa beban, tertular ke aku. Karena persahabatan itu memang mencuri tabiat. Kebiasaan Dewi, gak mustahil jadi kebiasaan aku, begitupun sebaliknya. Akan ada proses mewarnai dan diwarnai dalam persahabatan. Tinggal pilih, mau jadi pemberi warna atau diberi warna. Kalau aku sih, diberi warna yang menjadikan aku lebih baik, kenapa engga.

Hobi bicara dia, entah dari kapan. Jangan-jangan dari dia balita kerjaannya ngoceh terus sambil ngitung uang. Eh. Jadi kalau kami nginep bersama nih, gak lepas dari cerita tuh. Dan gaya cerita dia itu begitu ekspresif, jadi bener-bener diperagakan cara ngomong, natap, dan segalanya. Aku? Ya jadi pendengar yang baik. Karena kalau cerita pun, ga bisa seheboh dia. Hehehe.

Aku baru kenal dia hanya saat masuk BEM lho... jadi baru sekitar 8 bulan, tapi kerasanya kaya keluarga. Dia bagaikan adek dan kakak aku. Lho? Iya, kadang dia jadi adek aku, karena umurnya emang lebih muda dia, dan kalau sifat manjanya dia keluar, beuhhh... bocah banget! Kadang dia jadi kakak aku, sikap dia yang dadakan dewasa, bijaksana dalam masalah, de el el, membuat aku banyak belajar dari dia.

Hari ini,,, aku merasa bersalah banget sama dia... aku ngerasa belum bener ngejalani tugas sebagai Dirjend. Aku terlalu banyak ngecewain dia. Aku terlalu sering ga ada ketika dia butuh. Aku terlalu egois. Aku terlalu banyak ngasih beban ke dia. Sampai saat LPJ pun, aku malah ngasih hadiah ulang tahun terjahat buat dia. Ketika dia harus mempertanggungjawabkan kerjaan aku di depan perserta sidang. Aku panik. Dia yang di depan, aku yang panik di belakang. Takut. Aku gak bisa bantu banyak ketika dia harus bertahan dari peluru-peluru yang ditembakan para peserta sidang, meski yang nembak hanya dari satu fraksi dari adik tingkatnya pula. Tapi bukan Dewi, kalau dia gak bisa selesaikan ini. Bukan Dewi, kalau dia gak bisa jawab itu semua.

Maaf wi,belum bisa jadi teman yang baik, dan terimakasih sudah mengenal kamu. Semoga mimpi mu di tahun depan tercapai, mungkin beberapa bulan kedepan kita akan jarang bertemu karena jarak. Yeah, aku PLP dan kamu PLA beda kota pula (kalau jadi) kalau gak jadi pun, aku bakal  jarang ngampus deh. Full sih. Beda cerita kalau kita terjerumus ke sekre sebrang. Mau Wi?? Hahahaha. Meski begitu, janji saling ngasih bunga saat wisuda, jangan terlupakan ya? :D


1 komentar:

  • 13 November 2013 pukul 09.32

    dan alhasil... kami pun terjerumus ke sekre sebrang. tapi,, tetep weeee ga sering ketemu.. hehe

Posting Komentar

 

MaMah (Mahasiswa musliMah) punya cerita Copyright © 2011 | Template design by O Pregador | Powered by Blogger Templates