“you are my syan-syan!!!”ucap
manja perempuan yang baru saja genap berumur 21.
Yeah, dia adalah menteri keuangan
BEM REMA 2012. Kami dipertemukan dalam organisasi ini, orang yang bergitu
ekpresif, supel, baik hati, rajin makan, dan tidak sombong. Awalnya sih rada
canggung ketika bertemu di salah satu tempat favorit mahasiswa UPI kalau mau
manjaain perut dengan gratisan hotspot. Takut gak bisa kerjasama, klop, dan
sebagainya lah. Apalagi dalam hal ngatur uang yang tentunya lebih besar
dibanding di himpunan. Dan yang pasti dalam membangun jurusan aku, *chemistry
maksudnya :D * biar kompakan saat motong-motong anggaran de el el. Dan ternyata...
Eh, belum memperkenalkan nama ya? Hehehe.
Dia adalah Dewi, nama yang begitu pasaran menurut aku, tapi karakternya sulit
ditemui. Barang langka nih!*eh :D . sifat dia yang terbuka, banyak orang yang
suka padanya, kadang bikin aku cemburu juga. lho? Entah dari mana asal usul
sikapnya. Yang pasti kalau dari golongan darah, temen aku yang bergolongan
darah sama pun ga separah dia. Hehe. Kesan pertama bertemu mungkin serem,
karena karakter wajahnya yang tegas, dan matanya yang gede. Hahaaaha. Tapi kalau
dah kenal dia, beuuuuuuuuuh...
Kalau dibandingin aku sama dia ya,
gini nih hasilnya.
Galak: orang-orang menilai aku
sama Dewi sama-sama galak, 11 12. Jadi ga ada mendingnya. Hehehe. Tapi menurut
aku sih, kalau Dewi tergambar galak ketika bicara, suara yang cempreng dan
nyolot bikin muncul sifat galaknya. Kalau aku sih karena muka. Judes lah bisa
dibilang. Jadi belum juga ngomong dah dicap galak. -__- --------> tapi... kenyataannya aku dan Dewi
itu makhluk halus yang baik hati lhoooo... hahahhaha
Perhitungan: tetep, kata
orang-orang gak jauh beda antara aku dan Dewi. Kalau Dewi sih, lebih ke -telitian
dan kerasional-an tentang uang yang mau dikeluarkan, tapi dia gak pelit. Royal malah.
Nah kalau aku, hahahaha, gak mau rugi. Kalau ada yang lebih murah, ngapain cari
yang mahal. Jadi hitung-hitungannya lebih kaya penjual atau pembeli. Hehehe. Kalau
kami digabungin. Beuuuuuh,,, iritlah BEM ini..
Sama-sama suka : maksudnya hal
yang disukainya sama. Sepemikiran. Suka makan. Suka nonton. Suka ngitung uang,
eh. Suka apa lagi ya?
Air mata: nah, kalau masalah
ginian, Dewi lebih sering bikin banjir sekre. Hehehe. Maksudnya ya dia lebih
sering nangis daripada aku. Ini karena dia
lebih banyak masalah, atau dia lebih sensitif, atau caranya tuk
ngeringanin masalah, atau akunya aja yang cuek banget jadi jarang nangis ga
pernah malah. Hehehe. Disini aku lebih sering minjemin pundak, meski gak setiap
waktu juga sih, karena aku orang rumahan sedangkan dia orang kosan. Jadi kalau
malam, kami terpisahkan. *Apa siii
Jaim: atau jaga sikap kalinya...
untuk masalah ini, Dewi ini orangnya cuek, ga jaim. Jadi heboh deh!!! Dari dia
bicara, sampai apa ya? Pokoknya heboh. Kalau aku sih, masih jaim-jaim gitu..
hehehe. Gaya bicaranya pun beda. Yaiyalah. Mungkin karena dia orang Bekasi
lebih ke Betawi dan aku orang sunda jadi beda. Dan selama aku kenal Dewi, gaya
bicara dia yang kadang ngomong “gue” tanpa beban, tertular ke aku. Karena persahabatan
itu memang mencuri tabiat. Kebiasaan Dewi, gak mustahil jadi kebiasaan aku,
begitupun sebaliknya. Akan ada proses mewarnai dan diwarnai dalam persahabatan.
Tinggal pilih, mau jadi pemberi warna atau diberi warna. Kalau aku sih, diberi
warna yang menjadikan aku lebih baik, kenapa engga.
Hobi bicara dia, entah dari kapan.
Jangan-jangan dari dia balita kerjaannya ngoceh terus sambil ngitung uang. Eh. Jadi
kalau kami nginep bersama nih, gak lepas dari cerita tuh. Dan gaya cerita dia itu
begitu ekspresif, jadi bener-bener diperagakan cara ngomong, natap, dan
segalanya. Aku? Ya jadi pendengar yang baik. Karena kalau cerita pun, ga bisa
seheboh dia. Hehehe.
Aku baru kenal dia hanya saat
masuk BEM lho... jadi baru sekitar 8 bulan, tapi kerasanya kaya keluarga. Dia bagaikan
adek dan kakak aku. Lho? Iya, kadang dia jadi adek aku, karena umurnya emang
lebih muda dia, dan kalau sifat manjanya dia keluar, beuhhh... bocah banget! Kadang
dia jadi kakak aku, sikap dia yang dadakan dewasa, bijaksana dalam masalah, de
el el, membuat aku banyak belajar dari dia.
Hari ini,,, aku merasa bersalah
banget sama dia... aku ngerasa belum bener ngejalani tugas sebagai Dirjend. Aku
terlalu banyak ngecewain dia. Aku terlalu sering ga ada ketika dia butuh. Aku terlalu
egois. Aku terlalu banyak ngasih beban ke dia. Sampai saat LPJ pun, aku malah
ngasih hadiah ulang tahun terjahat buat dia. Ketika dia harus mempertanggungjawabkan
kerjaan aku di depan perserta sidang. Aku panik. Dia yang di depan, aku yang
panik di belakang. Takut. Aku gak bisa bantu banyak ketika dia harus bertahan
dari peluru-peluru yang ditembakan para peserta sidang, meski yang nembak hanya
dari satu fraksi dari adik tingkatnya pula. Tapi bukan Dewi, kalau dia gak bisa
selesaikan ini. Bukan Dewi, kalau dia gak bisa jawab itu semua.
Maaf wi,belum bisa jadi teman yang
baik, dan terimakasih sudah mengenal kamu. Semoga mimpi mu di tahun depan
tercapai, mungkin beberapa bulan kedepan kita akan jarang bertemu karena jarak.
Yeah, aku PLP dan kamu PLA beda kota pula (kalau jadi) kalau gak jadi pun, aku
bakal jarang ngampus deh. Full sih. Beda
cerita kalau kita terjerumus ke sekre sebrang. Mau Wi?? Hahahaha. Meski begitu,
janji saling ngasih bunga saat wisuda, jangan terlupakan ya? :D






dan alhasil... kami pun terjerumus ke sekre sebrang. tapi,, tetep weeee ga sering ketemu.. hehe