Dia seorang laki-laki biasa. Sayang anak kecil, santun pada
orang tua. Dulu sejak kecil, sepertinya aku lebih dekat dengannya. Bermain bersama.
Jalan-jalan bersama. Pokoknya sayang bangetlah. Tapi tidak ketika ada orang
baru yang berhasil merebut perhatiannya, adik aku. Dia jadi lebih dekat dengan
adik aku. Aku cemburu.
Ya, dia adalah ayahku. Panggil saja bapa. Sikapnya yang
tidak mau kalah, gengsi yang begitu besar, dan galak, mungkin menurun padaku. Meski
begitu, rasa sayang pada keluarganya, lebih besar daripada pada diri sendiri. Dia
selalu banyak berkorban untuk orang yang disekelilingnya. Ah, bapa, kenapa kau
begitu?
Aku cemburu, ketika bapakku lebih perhatian pada adikku. Selalu
memaksa adikku untuk bisa ini itu. Tapi kenapa padaku tidak? Jika dibandingkan
dengan adikku, aku memang lebih unggul. Tapi bapak tidak pernah menunjukkan
rasa bangga punya anak seperti aku. Jarang bapak puji aku. Aku pikir, bapak
tidak sayang padaku. Bodoh. Bodohnya aku punya pikiran seperti itu. Kini aku
tahu, bapak bangga padaku. Bapak selalu bangga ketika berbicara pada temannya
tentang kelebihan diriku. Bapak selalu memujiku pada orang lain tanpa
sepengetahuanku. Bapak sayang padaku.
Rasa sayang itu tidak harus ditunjukan, kan? Ya, bapak tidak
pernah menunjukan rasa sayangnya. Dia punya cara tersendiri. Dan aku
menyalahartikan selama ini. Baru sadar ketika sekarang, ketika aku tahu,
ternyata sikap aku dan bapak sama dalam memberi tanda sayang. Tidak pernah
ditunjukan. Gengsi ketika orang lain tahu, kalau kita sayang padanya.
Bapak selalu menginginkan adikku sama dengannya. Tapi tanpa
sadar, aku yang lebih banyak sama dengannya. Bukan adikku. Tapi tidak dengan
rupaku. Sampai saat ini aku masih bingung. Sebenarnya rupaku mirip dengan
siapa?
Tersentuh juga ketika bapak menahan egoisnya dari tidur untuk
mengantarkan aku ke kampus dini hari. Ya, dini hari pukul 03.30. Sebelumnya
juga, kuat menahan rasa kantuknya untuk menjemput aku tengah malam ke sekolah
ketika SMP, juga ketika SMA. Kini, meski aku tidak pernah minta jemput lagi
karena aku berkendaraan sendiri, bapakku masih setia menungguku pulang, depan
TV. (kalau diluar, berabe juga bisa masuk angin)
Kini umurku lebih dari 20 tahun. Dan bapakku pun sudah tua
pastinya. Aku sempat berpikir, sanggupkah aku hidup tanpanya? Aku ini masih
manja. Segalanya masih minta bantuan padanya. Aku belum mandiri. Banyak hal aku
tanyakan padanya. Dan dia bagaikan google di rumah. Hehe.
Aku sempat sedih, ketika bapak bahagia bermain dengan anak
anaknya tetangga aku. Singkatnya cucu dari tetanggaku. Sempatkah bapa merasakan
bahagia bermain dengan anakku?
Ya Allah, berilah kesehatan pada bapakku. Beri dia kemudahan
dalam pekerjaannya, tetap menjadi teladan untuk anak-anaknya. Dan beri aku
waktu dan kesempatan untuk membahagiakannya..
(-yang terbaik bagimu- ada band feat gita gutawa)
Teringat masa kecilku
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu
Buatku melambung
Disisimu terngiang
Hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi
Serta harapanmu
Kau ingin ku menjadi
Yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu
Jauhkan godaan
Yang mungkin kulakukan
Dalam waktuku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku
Terbelenggu jatuh dan terinjak
Tuhan tolonglah sampaikan
Sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji
Tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya
Ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu
Andaikan detik itu
Kan bergulir kembali
Kurindukan suasana
Basuh jiwaku
Membahagiakan aku
Yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu
Yang pernah terlewati
hari ini,, umurmu semakin berkurang saja Pak....