Kali ini aku akan sedikit
berbanjir-banjir ria. Bukan maksud tuk nambah pekerjaan pemerintah, toh, ini
hanya banjir di kamar sendiri.
Oke, ketika aku pergi ke suatu
tempat. Dimana, disana hanya ruang kecil, ruang kecil yang penuh kertas yang
jika dijual bisa cukup nraktir satu RT. Tapi Cuma nraktir krupuk yang
limaratusan aja sih. :D . namun, ruang
kecil itu sungguh memberi ku suatu kesan. Bukan hanya satu, tapi beribu kesan. Selalu
ada cerita tiap harinya, karena disana suasana takkan pernah sama. Meski yang
kutemui orang itu lagi orang itu lagi. Tapi sekali lagi, meski ketemu orang
yang sama, kesan itu selalu berbeda.
Kita sebut aja ruang kecil itu
sekre. Emang nama aslinya deng. Sekre yang bertetanggaan dengan ruangan
kuncennya PKM, pa Mumu, kadang menjadi tidak bebas untuk bicara yang sifatnya
rahasia. –karena apapun yang kamu katakan, akan terdengar olehnya dan olehNya-
:D
Kapan nih banjirnya?? Sabar, ini
baru intro. Coba mulai di nada C, ehm.
Aku ini orang asing, mungkin
sebagian orang juga menganggap dirinya asing ketika masuk ke ruang kecil itu. –lha..
katanya udah ada nama buat ruang kecil, gimana sih?- , oke, ketika masuk ke
sekre. –puas?- . butuh keberanian khusus untuk bisa memasuki sekre, apalagi
seorang pemalu seperti aku. –WHAT???-. ya, aku ini pemalu, lebih tepatnya jaim
sih. –jauh ya?-
Mereka, orang-orang hebat yang aku
kenal... orang hebat, orang hebat, orang hebat –saking banyaknya-. Orang hebat
yang pertama aku kenal adalah menteri aku, Dewi.sebut langsung namanya saja. Hehe.
Siapa dia? (lihat juga Dewa Dewi Pemutilasi Anggaran
Sejak tiga bulan yang lalu, kami
berpisah. Jarak yang sangat jauh membuat aku gak bisa... ah, ga bisa melakukan
seperti apa yang biasa dilakukan. Apa yang kami lakukan? Lupa. Saking banyaknya
itu teh. Yang pasti aku kangen sama ngebonceng dia. Ketika motornya belum lahir
ke Bandung, masih di Bekasi maksudnya, kalau pulang dari PKM, pasti selalu bareng
dia, nganterin dia sampai gang kosannya. Ada aja hari-hari untuk nge-hedon. Jangan
salah, meski kami dari keuangan, tapi dalam hal belanja untuk perut, kadang
kami sangat-sangat boros. –tipe pemakan segala dan banyak-. Lebih sederhananya
gini, kami pelit dalam mengeluarkan uang orang, tapi tidak untuk uang pribadi. Sampai
ngeganti uang yang entah berantah, pastinya kami rela untuk mengganti (T-T). Ketika
kami punya motor pun, jalan-jalan tetap dilakukan. Ngeramen lebih seringnya. Gara-gara
dia, aku dikenalkan berbagai ramen dari harga yang waw, sampai WAW!!. Aku juga
pernah nginep bareng di kosannya, pun dia pernah nginep di rumah aku. Dan apa
yang kami lakukan? Ngobrol sampai berbusa. Ya, busanya ga terlalu banyak sih,
ga sampai kaya busa yang dihasilkan oleh iklan sabun yang di TV. Aku lebih
sering jadi pendengar, dari pada pembicara. Gaya bicara dia kalau cerita begitu
ekpresif!! Jadi denger dia bicara berjam-jam pun ga bosen dan ngantuk karena
lucu lihat gerakannya. Hahaha. Oke, biar ga ngulang cerita, aku langsung
lanjutkan kisah orang berikutnya.
Namanya... sebut saja ... apa ya? Nanti
saja lah. Pertama ketemu saat ada perkumpulan penyambutan mahasiswa dari Padang,
tahun 2011. Jadi, tiap himpunan ada dua orang untuk memperkenalkan himpunannya.
Ramah. Begitulah kesan pertama. Padahal aku belum mengenal dekat dengannya,
tapi sedah merasa nyaman. Malah Kabem aku, mungkin dah kenal duluan dengan orang
ini. Wah, terkenal juga dia. Ternyata, dia ikut BEM REMA 2011, dan kini pun aku
dengannya disatukan di BEM tahun berikutnya, namun beda kementrian. Entahlah,
terbuat dari apa raganya. Sangat-sangat kuat. Sepertinya mengalahkan master
limbat deh. Eh limbad. Ah, sama saja lah. dia tipe yang setia kawan,
sepertinya. Hehe. Ketika suatu hari, aku kaget, dia bisa menceritakan sesuatu
yang bisa dibilang itu pribadi. Wah? Kenapa bisa? Kenapa aku orangnya? Kenapa hanya
aku yang tau ceritanya ? (orang yang di BEM) dari sanalah, berawal aku menjalin
hubungan dekat dengannya. Aku selalu menjawab permasalah yang dia ajukan. Seperti
kuis deh. Tanya jawab, kalau ga tau, ya jawab pass. Sampai suatu saat, suatu
malam, malam yang begitu dingin namun hangat, disela acara yang merupakan salah
satu proker BEM, akhirnya aku juga cerita padanya. Bocor deh tembok aku. Hahaha.
Ya, aku kangen cerita-cerita dengannya lagi. Kangen ketika dia tanya ini itu. Kangen
panggilannya “hey bro!” , hem,, bentar, kalimat ini sih banyak orang yang
pakai. Pokoknya gitu deh. Ceritanya yang bikin aku harus berfikir keras untuk
menjawab ini itu, bijak deh, padahal kalau aku jadi dia, belum tentu aku bisa
sekuat itu hatinya.
Ada lagi, aku bertemu dengannya
baru. Malah kesan pertama, aku masih ngerasa canggung dengannya, canggung
benget. Bingung, dia angkatan 2008, 2009, atau 2010 ya? Tapi dilihat dari kepiawaiannya
sepertinya dia pernah ikut kepengurusan BEM sebelum ini. Mulai deket ketika
ribut KKN. Aku dan dia dah berencana tuk sekelompok bareng. Mungkin dari sini
aku bisa lebih dekat dengannya, tapi ternyata masih canggung, begitu pun
dengannya, ternyata dia juga mengakui, masih canggung. Waaah... mulai dekat
ketika lepas dari bulan Agustus, perlahan namun pasti aku mulai dekat. Bareng-bareng
ketika MOKA, Upgrading, cukup membuat aku kenal dia, tapi tidak menyeluruh. Tapi
kenapa terasa dekat menjelang perpisahan??? Aku jadi sering bareng dengan dia
ketika pulang, atau ini efek dari tidak adanya Dewi ya? Hehehe. Yang pasti,
hanya dengannya aku bisa bicara bebas, sepuasnya yang aku mau. Malah, kenapa
aku bisa terbuka banget ya? Tanpa sadar, ada kesamaan diantara kami yang bari
kami sadari, dan akhirnya deket deh. Dengannya aku tidak hanya jadi pendengar,
tapi pembicara juga. Meski ngobrolnya hanya beberapa menit saja, itu pun
kadang-kadang, tapi aku bisa cerita padanya, cerita yang belum pernah aku
ceritakan pada orang lain. Waaw. Aku juga gak sadar. Haha.
Orang yang berbeda lagi, aku mulai
deket ketika aku konsultasi padanya tentang masalah yang dia pun memilikinya,
dari sana aku merasa nyaman juga. Dan jika dilihat, dia gak begitu dekat dengan
orang-orang yang dekat dengan ku. Tapi terlihat dia yang duluan yang deketin
aku. Hahaha GR banget, tapi rasanya sih iya, dia yang duluan. Tapi karena dia
jarang muncul, itu lah yang membuat aku kangen sama dia, lebih-lebih dari yang
lain. Maksudnya gini, jangan pada marah dulu ya, hahaha, kalau dengan yang
lain, aku selalu bertemu di sekre, tapi kalau dengan yang satu ini aku selalu
ketemu di tempat yang gak diduga, di perpus lah, di jalan menuju perpus lah, di
parkiran setelah perpus lah, ko? hahaha. Dan entah kenapa aku suka senang,
senang banget ketemu dia. Beneran deh.
Lain orang. Aku ketemu dia ketika
interview. Keibuan, awalnya gitu. Tapi... hahhaa bocah banget. Hehehe. Aku lebih
sering berantem dengan dia, tapi itu lah yang buat aku kengen dengannya, sampai
suatu saat, aku juga keceplosan. Oh my god!!!! Suatu permainan kata yang tanpa
sadar aku mengatakannya. Huaaaaa!!! Hati-hati, hati-hati. Dia tipe pendengar,
jadi aku lebih banyak bicara. Tapi berimbang laaah.. kalau akunya lagi males
bicara. Dia tipe orang yang loyal,, sangat loyal. Ya, terlihat jelas da. Hehehe
Lain orang lagi. Dia keibuan. Ibu banget
lah, dan sangat kaku. Entah mengapa, aku canggung kalau sama dia. Mungkin karena
sama-sama kaku kali ya?? Hehe. Pertama ketemu juga ketika interview. Aku lebih
sering dapat teguran secara gak langsung dari dia ketika aku salah. Segan, aku
sangat segan, dan menghormatinya. Meski pernah dia melakukan hal yang terlihat
bodoh, tapi kedewasaannya nya, tetap saja lebih dominan. Hehehe. Entahlah,
meski tidak ada momen yang membuat aku lebih dekat mengenalnya, tapi aku suka
dia, tegas. Kaka yang baik untuk ku.
Seseorang yang lain, dia terlihat
sangat lebih kekanakan dari aku, tapi ketika dia mengeluarkan taring,
wuiiiih,,, dasyat. Dewasa beud.-sangat alay gini-. Pemikirannya luar biasa. Yaaa
tapi kalau sifat kekanakannya keluar, sudahlah, manjaaaa banget. Hahaha. Mandiri.
Jelas. Baik. Tentu. Jarang deh menemukan ni orang. Hehhe
Kalau yang satu ini, aku tau dia
dari semester satu. Makanya setelah masuk BEM ini, mungkin hanya nama dia yang
sering aku sebut sebut karena baru dia kenalanku. Hahaha. Tapi berjalannya
waktu, semakin banyak aku kenal orang, aku jadi jarang berkomunikasi dengannya,
jadi canggung jatohnya. Mungkin karena ada sesuatu yang jalan pikiran kami ga
searah, mungkin itu juga. Hehe. Tapi dia termasuk orang yang luar biasa juga. Luar
biasa banget deh. Banget, hehe. Lebay sih, tapi kalau aku jadi dia, ga mungkin
bisa seperti itu. Rasa kepedulian terhadap sesama sangat luar biasa. Hehehe. Mungkin
karena dia lebih sering berhubungan dengan orang yang emosi kali ya, jadi
ketika waktu itu aku emosi, dia terlihat sabar, santai cara bicaranya, ga
tersulut juga. Luar biasa. Aku merasa ga enak sama dia.
Ada lagi, aku belum terlalu kenal
dengannya. Tapi ko? Yang orang-orang yang aku ceritakan di atas kenal dia? Lebih
dekat malah? Waduh, siapa sih? Aku mulai melihatnya ketika upgrading pertama,
sama-sama pemotor juga. Canggung pasti, karena aku ga mungkin sok kenal
dengannya ujug-ujug. Entah kapan, tiba-tiba deket aja. Ya ga langsung deket
banget sih, yang pasti beberapa momen, yang akhirnya aku dan dia bisa kenal
lebih dalam, ditambah lagi ketika aku baru punya account yang untuk berkicau
itu lho, dia follow aku duluan. Awalnya ga tau ini siapa, karena nama asli dan
nama panggilannya jauh berbeda. Hehhe
Next. Dia... hehehe. Unik. Puitis.
Keren. Selalu berantem dengan orang yang aku tulis. Aku deket dengannya pun
karena suatu acara. Jadi ceritanya tiap acara yang berbeda, pasti aja ada jalan
dan cerita aku mulai mengenal orang-orang asing ini. Hehehe. Dia luar biasa,
pintar juga. Ah... bingung mau menjelaskan apa lagi, kami tidak sampai
kecurhat-curhatan, tapi aku menulis ini, karena dia salah satu yang aku kagumi
sebagai orang hebat.
Terakhir, dia.. masih anak-anak. Hehehe.
Kalau lagi kambuh itu juga. Aku kerjasama dengannya dibeberapa proker. Keras kepala,
emang. Tapi ga sekeras batu juga laaah.. aku dekat dengannya saat kapan ya? Entahlah.
Saat awal ketemu ketika rapat pimpinan, dia riang orangnya. Nyaman juga jadi
temannya. Terakhir ketemu dia, saat makan ramen bareng, dan aku nganter pulang,
kebetulan bareng, searah, hahaha. Dia sampai bilang “eh, aku pulang bukan sama
ikhwan ya, saksi lho “ itu karena... hahaha..lucu deh
Yaaa.. mereka. Secara tidak langsung
pernah mengisi hari-hari selama di BEM ini. Lebay? Emang, hahha. Sebenernya yang
aku kangeni ke sekre itu, bukan masalah kerjaannya, tapi karena ketemu dengan
mereka. Itu yang aku bisa bertahan di BEM ini. Bukan.. ini gak lagi menggombal,
tapi emang benar adanya. Aku nyaman dekat mereka. Meski diantara mereka ada
yang nganggap aku sebatas teman biasa, teman luar biasa, teman spesial, sahabat
baik, sodara, apapun itu, aku senang, karena mereka bawa pengaruh baik untuk
aku. Saling mewarnai ceritanya. Tapi dari beberapa orang yang aku ceritakan,
gak semerta-merta kami selalu bareng. Kami juga punya pasangan masing-masing. Jadi
diantara kami ini, pasti ada perasaan, “aku lebih nyaman sama ini” jadi kadang,
rasa cemburu suka ada, Kesannya ko
asa gimana gitu... ini efek dari sayang sesama sodara sist, bro, jangan
berfikiran macem-macem dulu... hahaha. Karena kalau dari segi umur, mereka ada
yang jadi kaka aku, juga ade aku.
Kini, berganti kepengurusan... aku
pasti kangen sama mereka sangat teramat luar biasa deh. Kami semua ini dari
berbeda jurusan. Berbeda fakultas. Yang peluang ketemunya sangat sedikit. Kenapa?
Sejurusan aja, belum tentu ketemu tiap hari. Tempat yang pastinya kami ketemu
ya tidak lain dan tidak bukan di sekre. Sekre, tempat yang mempertemukan aku
dengan orang-orang hebat ini. Luar biasa. Ketika kami didemisionerkan,
sebenernya luar biasa senang sekaligus sangaaaaaaaaaaat sedih luar biasa. Berhubung
aku jaim, jadi aku baik-baik saja, tanpa ada tetesan air mata. Hehehe, tapi
jujur, aku ingin merasakan air mata itu keluar bersama. Aku melewatkan momen
nginep bareng terakhir. Hem,, benarkah itu terakhir? Aku berharap sih, itu
bukan yang terakhir... tak hanya satu tahun,, bahkan lebih...pokoke,,, makasih banyak!! ^o^ lagu untuk kaliaaaaann T-T
Sherina -Lihatlah lebih dekat
Hatiku sedih
Hatiku gundah
Tak ingin pergi berpisah
Hatiku bertanya
Hatiku curiga
Mungkinkah kutemui
kebahagiaan seperti di sini
Sahabat yang selalu ada
Dalam suka dan duka
Sahabat yang selalu ada
Dalam suka dan duka
Tempat yang nyaman
Kala ku terjaga
Dalam tidurku yang lelap
Pergilah sedih
Pergilah resah
Jauhkanlah aku dari
salah prasangka
Pergilah gundah
Jauhkan resah
Lihat segalanya lebih dekat
Dan ‘kubisa menilai lebih bijaksana
Mengapa bintang bersinar
Mengapa air mengalir
Mengapa dunia berputar
Lihat segalanya lebih dekat
Dan ‘kuakan mengerti




Maaf ya.. buat teman teman yang kurang kena..atau detail tentang awal pertemuan ato momen yang dilalui bersama, karena kalimat kalimat ini dibuat dilihat dari sudut pandang aku terhadap kalian, jadi ga aneh kalau ada yang ga ngeh kalau itu teh ngomongin kamu loh A, ngomongin kamu loh B, dst. Hehe, yaaa yang pasti..inilah coretan hati aku waktu di BEM dulu.hehe
Maaf ya.. buat teman teman yang kurang kena..atau detail tentang awal pertemuan ato momen yang dilalui bersama, karena kalimat kalimat ini dibuat dilihat dari sudut pandang aku terhadap kalian, jadi ga aneh kalau ada yang ga ngeh kalau itu teh ngomongin kamu loh A, ngomongin kamu loh B, dst. Hehe, yaaa yang pasti..inilah coretan hati aku waktu di BEM dulu.hehe