Senin, 18 Maret 2013

Satu tahun, bahkan lebih...

,
Bismillah.


Kali ini aku akan sedikit berbanjir-banjir ria. Bukan maksud tuk nambah pekerjaan pemerintah, toh, ini hanya banjir di kamar sendiri.

Oke, ketika aku pergi ke suatu tempat. Dimana, disana hanya ruang kecil, ruang kecil yang penuh kertas yang jika dijual bisa cukup nraktir satu RT. Tapi Cuma nraktir krupuk yang limaratusan aja sih. :D  . namun, ruang kecil itu sungguh memberi ku suatu kesan. Bukan hanya satu, tapi beribu kesan. Selalu ada cerita tiap harinya, karena disana suasana takkan pernah sama. Meski yang kutemui orang itu lagi orang itu lagi. Tapi sekali lagi, meski ketemu orang yang sama, kesan itu selalu berbeda.

Kita sebut aja ruang kecil itu sekre. Emang nama aslinya deng. Sekre yang bertetanggaan dengan ruangan kuncennya PKM, pa Mumu, kadang menjadi tidak bebas untuk bicara yang sifatnya rahasia. –karena apapun yang kamu katakan, akan terdengar olehnya dan olehNya- :D 

Kapan nih banjirnya?? Sabar, ini baru intro. Coba mulai di nada C, ehm.

Aku ini orang asing, mungkin sebagian orang juga menganggap dirinya asing ketika masuk ke ruang kecil itu. –lha.. katanya udah ada nama buat ruang kecil, gimana sih?- , oke, ketika masuk ke sekre. –puas?- . butuh keberanian khusus untuk bisa memasuki sekre, apalagi seorang pemalu seperti aku. –WHAT???-. ya, aku ini pemalu, lebih tepatnya jaim sih. –jauh ya?-

Mereka, orang-orang hebat yang aku kenal... orang hebat, orang hebat, orang hebat –saking banyaknya-. Orang hebat yang pertama aku kenal adalah menteri aku, Dewi.sebut langsung namanya saja. Hehe. Siapa dia? (lihat juga Dewa Dewi Pemutilasi Anggaran

Sejak tiga bulan yang lalu, kami berpisah. Jarak yang sangat jauh membuat aku gak bisa... ah, ga bisa melakukan seperti apa yang biasa dilakukan. Apa yang kami lakukan? Lupa. Saking banyaknya itu teh. Yang pasti aku kangen sama ngebonceng dia. Ketika motornya belum lahir ke Bandung, masih di Bekasi maksudnya, kalau pulang dari PKM, pasti selalu bareng dia, nganterin dia sampai gang kosannya. Ada aja hari-hari untuk nge-hedon. Jangan salah, meski kami dari keuangan, tapi dalam hal belanja untuk perut, kadang kami sangat-sangat boros. –tipe pemakan segala dan banyak-. Lebih sederhananya gini, kami pelit dalam mengeluarkan uang orang, tapi tidak untuk uang pribadi. Sampai ngeganti uang yang entah berantah, pastinya kami rela untuk mengganti (T-T). Ketika kami punya motor pun, jalan-jalan tetap dilakukan. Ngeramen lebih seringnya. Gara-gara dia, aku dikenalkan berbagai ramen dari harga yang waw, sampai WAW!!. Aku juga pernah nginep bareng di kosannya, pun dia pernah nginep di rumah aku. Dan apa yang kami lakukan? Ngobrol sampai berbusa. Ya, busanya ga terlalu banyak sih, ga sampai kaya busa yang dihasilkan oleh iklan sabun yang di TV. Aku lebih sering jadi pendengar, dari pada pembicara. Gaya bicara dia kalau cerita begitu ekpresif!! Jadi denger dia bicara berjam-jam pun ga bosen dan ngantuk karena lucu lihat gerakannya. Hahaha. Oke, biar ga ngulang cerita, aku langsung lanjutkan kisah orang berikutnya.

Namanya... sebut saja ... apa ya? Nanti saja lah. Pertama ketemu saat ada perkumpulan penyambutan mahasiswa dari Padang, tahun 2011. Jadi, tiap himpunan ada dua orang untuk memperkenalkan himpunannya. Ramah. Begitulah kesan pertama. Padahal aku belum mengenal dekat dengannya, tapi sedah merasa nyaman. Malah Kabem aku, mungkin dah kenal duluan dengan orang ini. Wah, terkenal juga dia. Ternyata, dia ikut BEM REMA 2011, dan kini pun aku dengannya disatukan di BEM tahun berikutnya, namun beda kementrian. Entahlah, terbuat dari apa raganya. Sangat-sangat kuat. Sepertinya mengalahkan master limbat deh. Eh limbad. Ah, sama saja lah. dia tipe yang setia kawan, sepertinya. Hehe. Ketika suatu hari, aku kaget, dia bisa menceritakan sesuatu yang bisa dibilang itu pribadi. Wah? Kenapa bisa? Kenapa aku orangnya? Kenapa hanya aku yang tau ceritanya ? (orang yang di BEM) dari sanalah, berawal aku menjalin hubungan dekat dengannya. Aku selalu menjawab permasalah yang dia ajukan. Seperti kuis deh. Tanya jawab, kalau ga tau, ya jawab pass. Sampai suatu saat, suatu malam, malam yang begitu dingin namun hangat, disela acara yang merupakan salah satu proker BEM, akhirnya aku juga cerita padanya. Bocor deh tembok aku. Hahaha. Ya, aku kangen cerita-cerita dengannya lagi. Kangen ketika dia tanya ini itu. Kangen panggilannya “hey bro!” , hem,, bentar, kalimat ini sih banyak orang yang pakai. Pokoknya gitu deh. Ceritanya yang bikin aku harus berfikir keras untuk menjawab ini itu, bijak deh, padahal kalau aku jadi dia, belum tentu aku bisa sekuat itu hatinya.

Ada lagi, aku bertemu dengannya baru. Malah kesan pertama, aku masih ngerasa canggung dengannya, canggung benget. Bingung, dia angkatan 2008, 2009, atau 2010 ya? Tapi dilihat dari kepiawaiannya sepertinya dia pernah ikut kepengurusan BEM sebelum ini. Mulai deket ketika ribut KKN. Aku dan dia dah berencana tuk sekelompok bareng. Mungkin dari sini aku bisa lebih dekat dengannya, tapi ternyata masih canggung, begitu pun dengannya, ternyata dia juga mengakui, masih canggung. Waaah... mulai dekat ketika lepas dari bulan Agustus, perlahan namun pasti aku mulai dekat. Bareng-bareng ketika MOKA, Upgrading, cukup membuat aku kenal dia, tapi tidak menyeluruh. Tapi kenapa terasa dekat menjelang perpisahan??? Aku jadi sering bareng dengan dia ketika pulang, atau ini efek dari tidak adanya Dewi ya? Hehehe. Yang pasti, hanya dengannya aku bisa bicara bebas, sepuasnya yang aku mau. Malah, kenapa aku bisa terbuka banget ya? Tanpa sadar, ada kesamaan diantara kami yang bari kami sadari, dan akhirnya deket deh. Dengannya aku tidak hanya jadi pendengar, tapi pembicara juga. Meski ngobrolnya hanya beberapa menit saja, itu pun kadang-kadang, tapi aku bisa cerita padanya, cerita yang belum pernah aku ceritakan pada orang lain. Waaw. Aku juga gak sadar. Haha.

Orang yang berbeda lagi, aku mulai deket ketika aku konsultasi padanya tentang masalah yang dia pun memilikinya, dari sana aku merasa nyaman juga. Dan jika dilihat, dia gak begitu dekat dengan orang-orang yang dekat dengan ku. Tapi terlihat dia yang duluan yang deketin aku. Hahaha GR banget, tapi rasanya sih iya, dia yang duluan. Tapi karena dia jarang muncul, itu lah yang membuat aku kangen sama dia, lebih-lebih dari yang lain. Maksudnya gini, jangan pada marah dulu ya, hahaha, kalau dengan yang lain, aku selalu bertemu di sekre, tapi kalau dengan yang satu ini aku selalu ketemu di tempat yang gak diduga, di perpus lah, di jalan menuju perpus lah, di parkiran setelah perpus lah, ko? hahaha. Dan entah kenapa aku suka senang, senang banget ketemu dia. Beneran deh.

Lain orang. Aku ketemu dia ketika interview. Keibuan, awalnya gitu. Tapi... hahhaa bocah banget. Hehehe. Aku lebih sering berantem dengan dia, tapi itu lah yang buat aku kengen dengannya, sampai suatu saat, aku juga keceplosan. Oh my god!!!! Suatu permainan kata yang tanpa sadar aku mengatakannya. Huaaaaa!!! Hati-hati, hati-hati. Dia tipe pendengar, jadi aku lebih banyak bicara. Tapi berimbang laaah.. kalau akunya lagi males bicara. Dia tipe orang yang loyal,, sangat loyal. Ya, terlihat jelas da. Hehehe

Lain orang lagi. Dia keibuan. Ibu banget lah, dan sangat kaku. Entah mengapa, aku canggung kalau sama dia. Mungkin karena sama-sama kaku kali ya?? Hehe. Pertama ketemu juga ketika interview. Aku lebih sering dapat teguran secara gak langsung dari dia ketika aku salah. Segan, aku sangat segan, dan menghormatinya. Meski pernah dia melakukan hal yang terlihat bodoh, tapi kedewasaannya nya, tetap saja lebih dominan. Hehehe. Entahlah, meski tidak ada momen yang membuat aku lebih dekat mengenalnya, tapi aku suka dia, tegas. Kaka yang baik untuk ku.

Seseorang yang lain, dia terlihat sangat lebih kekanakan dari aku, tapi ketika dia mengeluarkan taring, wuiiiih,,, dasyat. Dewasa beud.-sangat alay gini-. Pemikirannya luar biasa. Yaaa tapi kalau sifat kekanakannya keluar, sudahlah, manjaaaa banget. Hahaha. Mandiri. Jelas. Baik. Tentu. Jarang deh menemukan ni orang. Hehhe

Kalau yang satu ini, aku tau dia dari semester satu. Makanya setelah masuk BEM ini, mungkin hanya nama dia yang sering aku sebut sebut karena baru dia kenalanku. Hahaha. Tapi berjalannya waktu, semakin banyak aku kenal orang, aku jadi jarang berkomunikasi dengannya, jadi canggung jatohnya. Mungkin karena ada sesuatu yang jalan pikiran kami ga searah, mungkin itu juga. Hehe. Tapi dia termasuk orang yang luar biasa juga. Luar biasa banget deh. Banget, hehe. Lebay sih, tapi kalau aku jadi dia, ga mungkin bisa seperti itu. Rasa kepedulian terhadap sesama sangat luar biasa. Hehehe. Mungkin karena dia lebih sering berhubungan dengan orang yang emosi kali ya, jadi ketika waktu itu aku emosi, dia terlihat sabar, santai cara bicaranya, ga tersulut juga. Luar biasa. Aku merasa ga enak sama dia.

Ada lagi, aku belum terlalu kenal dengannya. Tapi ko? Yang orang-orang yang aku ceritakan di atas kenal dia? Lebih dekat malah? Waduh, siapa sih? Aku mulai melihatnya ketika upgrading pertama, sama-sama pemotor juga. Canggung pasti, karena aku ga mungkin sok kenal dengannya ujug-ujug. Entah kapan, tiba-tiba deket aja. Ya ga langsung deket banget sih, yang pasti beberapa momen, yang akhirnya aku dan dia bisa kenal lebih dalam, ditambah lagi ketika aku baru punya account yang untuk berkicau itu lho, dia follow aku duluan. Awalnya ga tau ini siapa, karena nama asli dan nama panggilannya jauh berbeda. Hehhe

Next. Dia... hehehe. Unik. Puitis. Keren. Selalu berantem dengan orang yang aku tulis. Aku deket dengannya pun karena suatu acara. Jadi ceritanya tiap acara yang berbeda, pasti aja ada jalan dan cerita aku mulai mengenal orang-orang asing ini. Hehehe. Dia luar biasa, pintar juga. Ah... bingung mau menjelaskan apa lagi, kami tidak sampai kecurhat-curhatan, tapi aku menulis ini, karena dia salah satu yang aku kagumi sebagai orang hebat.

Terakhir, dia.. masih anak-anak. Hehehe. Kalau lagi kambuh itu juga. Aku kerjasama dengannya dibeberapa proker. Keras kepala, emang. Tapi ga sekeras batu juga laaah.. aku dekat dengannya saat kapan ya? Entahlah. Saat awal ketemu ketika rapat pimpinan, dia riang orangnya. Nyaman juga jadi temannya. Terakhir ketemu dia, saat makan ramen bareng, dan aku nganter pulang, kebetulan bareng, searah, hahaha. Dia sampai bilang “eh, aku pulang bukan sama ikhwan ya, saksi lho “ itu karena... hahaha..lucu deh

Yaaa.. mereka. Secara tidak langsung pernah mengisi hari-hari selama di BEM ini. Lebay? Emang, hahha. Sebenernya yang aku kangeni ke sekre itu, bukan masalah kerjaannya, tapi karena ketemu dengan mereka. Itu yang aku bisa bertahan di BEM ini. Bukan.. ini gak lagi menggombal, tapi emang benar adanya. Aku nyaman dekat mereka. Meski diantara mereka ada yang nganggap aku sebatas teman biasa, teman luar biasa, teman spesial, sahabat baik, sodara, apapun itu, aku senang, karena mereka bawa pengaruh baik untuk aku. Saling mewarnai ceritanya. Tapi dari beberapa orang yang aku ceritakan, gak semerta-merta kami selalu bareng. Kami juga punya pasangan masing-masing. Jadi diantara kami ini, pasti ada perasaan, “aku lebih nyaman sama ini” jadi kadang, rasa cemburu suka ada, Kesannya ko asa gimana gitu... ini efek dari sayang sesama sodara sist, bro, jangan berfikiran macem-macem dulu... hahaha. Karena kalau dari segi umur, mereka ada yang jadi kaka aku, juga ade aku.
Kini, berganti kepengurusan... aku pasti kangen sama mereka sangat teramat luar biasa deh. Kami semua ini dari berbeda jurusan. Berbeda fakultas. Yang peluang ketemunya sangat sedikit. Kenapa? Sejurusan aja, belum tentu ketemu tiap hari. Tempat yang pastinya kami ketemu ya tidak lain dan tidak bukan di sekre. Sekre, tempat yang mempertemukan aku dengan orang-orang hebat ini. Luar biasa. Ketika kami didemisionerkan, sebenernya luar biasa senang sekaligus sangaaaaaaaaaaat sedih luar biasa. Berhubung aku jaim, jadi aku baik-baik saja, tanpa ada tetesan air mata. Hehehe, tapi jujur, aku ingin merasakan air mata itu keluar bersama. Aku melewatkan momen nginep bareng terakhir. Hem,, benarkah itu terakhir? Aku berharap sih, itu bukan yang terakhir... tak hanya satu tahun,, bahkan lebih...pokoke,,, makasih banyak!! ^o^ lagu untuk kaliaaaaann T-T

Sherina -Lihatlah lebih dekat

Hatiku sedih
Hatiku gundah
Tak ingin pergi berpisah

Hatiku bertanya
Hatiku curiga
Mungkinkah kutemui
kebahagiaan seperti di sini

Sahabat yang selalu ada
Dalam suka dan duka
Sahabat yang selalu ada
Dalam suka dan duka

Tempat yang nyaman
Kala ku terjaga
Dalam tidurku yang lelap

Pergilah sedih
Pergilah resah
Jauhkanlah aku dari
salah prasangka

Pergilah gundah
Jauhkan resah
Lihat segalanya lebih dekat
Dan ‘kubisa menilai lebih bijaksana

Mengapa bintang bersinar
Mengapa air mengalir
Mengapa dunia berputar
Lihat segalanya lebih dekat
Dan ‘kuakan mengerti







2 komentar to “Satu tahun, bahkan lebih...”

  • 13 November 2013 pukul 23.48

    Maaf ya.. buat teman teman yang kurang kena..atau detail tentang awal pertemuan ato momen yang dilalui bersama, karena kalimat kalimat ini dibuat dilihat dari sudut pandang aku terhadap kalian, jadi ga aneh kalau ada yang ga ngeh kalau itu teh ngomongin kamu loh A, ngomongin kamu loh B, dst. Hehe, yaaa yang pasti..inilah coretan hati aku waktu di BEM dulu.hehe

  • 13 November 2013 pukul 23.49

    Maaf ya.. buat teman teman yang kurang kena..atau detail tentang awal pertemuan ato momen yang dilalui bersama, karena kalimat kalimat ini dibuat dilihat dari sudut pandang aku terhadap kalian, jadi ga aneh kalau ada yang ga ngeh kalau itu teh ngomongin kamu loh A, ngomongin kamu loh B, dst. Hehe, yaaa yang pasti..inilah coretan hati aku waktu di BEM dulu.hehe

Posting Komentar

 

MaMah (Mahasiswa musliMah) punya cerita Copyright © 2011 | Template design by O Pregador | Powered by Blogger Templates