“Santi ya?” ucapnya ketika tidak
sengaja bertemu di gang menuju gerlong sepulang dari kuliah. Ini terjadi ketika
awal saya masuk kuliah tingkat satu. Dia adalah teman laki-laki sekelas pertama
yang tahu nama saya, maksud saya, yang menyapa saya. Cahya Maula Shidiq, itulah
nama lengkapnya. Saya tidak terlalu dekat dengannya. Sehingga saya tidak tahu,
dibalik muka polosnya itu, menyimpan hal yang takjub.
Watak dia terlihat sedikit
ketika ada satu acara yang diadakan himpunan kimia, yaitu RADIOAKTIF. Acara
tersebut sangat meriah dan saya senang mengikutinya. Sampai suatu ketika,
diakhir acara kakak tingkat yang menjadi MC pada waktu itu, kang Enggah,
memberikan pertanyaan kepada kami sebagai peserta. Sebenarnya lupa bagaimana
pertanyaannya, namun kurang lebih seperti ini “kamu melihat pacar selingkuh,
kamu mau menumpahkan sesuatu ke selingkuhan pacar kamu, disana ada air panas
dan air kuah sayur. Pilih, lebih panas mana, air panas atau kuah sayur, jika
kamu mau menumpahkan ke selingkuhan pacarmu itu?” -mohon dikoreksi-. Ketika itu
yang menjawab Cahya. Dengan polos ia menjawab “lebih panas hati saya”. Serentak
semua panitia, peserta, juga kang Enggah tertawa. Jawaban cerdas yang tidak
pernah diduga sebelumnya.
Berlanjut beberapa bulan
kemudian, saya dan Cahya ternyata ikut kepengurusan BEM HMK juga. Dia di
departemen organisasi bidang litbang. Mungkin dia ditempatkan disana karena dia
tempat yang asyik jika diajak curhat. Begitu pun saya, sempat saya curhat
padanya diakhir- akhir kepengurusan.
Tidak disangka, dia begitu
dewasa, padahal umurnya jauh lebih muda daripada saya. Saya mulai tahu keahlian
dia. Salah satunya pintar memasak. Seorang sulung yang berperan sebagai asisten
ibunya, membuat dia terlatih untuk mengerjakan perkerjaan yang seharusnya
dilakukan perempuan. Langka. Keahliannya ternyata menghasilkan uang. Dia tidak
malu untuk berjualan. Dagangannya malah selalu diburu dan memberi manfaat untuk
semua orang. Sampai mengantarkan dia lolos seleksi 2 beasiswa entrepreuneur.
Akhirnya Cahya ikut kembali di kepengurusan
Indra sebagai Sekertaris Umum dan aku menjadi Bendahara Umum. Kondisi ini
membuat hubungan kami dekat dalam hal pekerjaan. Memang pada dasarnya Cahya
enak diajak diskusi dalam hal apapun.
Tangannya yang luar biasa,
membuat dia punya keahlian yang saya sebutkan tadi, juga dalam hal menulis, dia
termasuk memiliki tulisan yang rapi untuk ukuran laki-laki. Selain itu, dia
pintar menggambar. Jika melihat buku catatannya, selain tulisan yang dia catat
saat kuliah, ada juga gambar-gambar baik yang berhubungan dengan kuliah maupun
tidak. Saya juga suka menggambar, bedanya gambaran saya lebih ke abstrak, sedangkan
dia yang kongkrit, meskipun jika dalam penglihatan dia bisa melihat yang ‘abstrak’.
![]() |
| salah satu hasil karyanya yang saya sukaaaa!! |
Tidak hanya itu, saya juga
banyak mengetahui tentang musik korea dari dia. Luar biasa. Ada alasan untuk
membenci dia? Ooooh.. untuk apa cari alasan untuk membenci seseorang. Sebagai teman,
saya kagum padanya. Kagum akan prestasinya. Karakter yang tidak neko-neko. Semua
pembicaraan dengannya sangat mengasyikkan, kecuali ketika dia mulai
membicarakan yang ‘abstrak’, kadang bikin parno.
![]() |
| kimB ala cahya |






