Rabu, 16 Mei 2012

Kakak Beradik Pemakan Bensin

,
Kamu orang Bandung Timur? Atau sering ke arah Bandung Timur? Tahu perempatan Pahlawan dan Cikutra?
Yups, dua perempatan ini akan kamu lalui jika menuju atau meninggalkan Bandung Timur. Ada apa dengan kedua perempatan itu?
Berawal semenjak aku duduk di bangku SMA, kebetulan SMA ku berada di jalan Yudhawastu Pramuka yang pastinya selalu melewati kedua perempatan itu (Dan sampai sekarang pun, aku selalu melewati perempatan kakak beradik itu). Pak polisi selalu mejeng di kedua perempatan itu, sampai pernah waktu aku mau les bersama teman, kena tilang karena kata Pak polisi kami nerobos lampu merah (fakta: lampu merah baru nyala ketika kami ada ditengah2 lhooo). Tidak  jarang aku terlambat karena kedua perempatan itu. Lho? Ko bisa?
Jadi begini ceritanya... perempatan (yang aku tahu ya) yang paling sering mati lampu merah kuning hijaunya, ya kedua perempatan itu. Efeknya itu, jalanan jadi macet karena namanya perempatan, otomatis ada 4 jalan dengan satu jalannya ada dua jalur, nah tidak tertib deh, kendaraan berseliweran kemana-mana.
Untuk perempatan Cikutra, aku sebut adenya ya, kalau penyakitnya kambuh lagi (baca: mati lampu merah kuning hijaunya) tidak begitu parah sih efeknya. Karena orang-orang rata-rata tujuannya ke arah Pahlawan atau Cicaheum, jarang ke arah Cicadas via Cikutra atau Cikutra atas, paling angkot pink yang memang jalurnya. Tapi efeknya bisa ngetem atau pending sekitar 3-5 menitan laaaah dengan jurus nyelip sana sini (motor aku kan langsing. Haha)
Naaaaaaah. Kalau kakaknya, perempatan Pahlawan, aduuuuuuuuuuuh... butuh kesabaran ekstra deh!! Apalagi kalau matinya pagi, haha, semua orang pakai nafsu semua deh (udah telat mungkin) klakson sana-sini, satu jalan didominan satu arah, gimana tidak tambah macet coba, jadi arah yang berlawanan tidak bisa lewat. Tidak hanya pagi, mau siang, malam, hujan, panas, semua cuaca pernah merasakan ketika lampu merah kuning hijau itu mati.
Tapiiiiii... untuk malam ini, lampu tidak mati, tapi hidup terus. Jadi lampu hijau untuk ke arah Cicaheum dan Gasibu hijau terus, sedangkan menuju ke tugu Pahlawan atau Sadang Serang dan Katamso, merah terus. Alhasil, macet lagi- macet lagi. Ditambah faktor malam menuju weekend panjang juga kali ya, jadi mendadak banyak kendaraan yang mengurangi ruang gerak untuk nyelip sana sini. Yo’i. Perjalanan pulang malam ini dari kampus, laaaaaaaaama banget. Biasanya paling lama 45 menit. Lha sekarang? Makan waktu sejam! Makan bensin pula. Hadeuuh...
Para pelayan masyarakat, hal kecil seperti ini juga, diperhatikan donk...>.<

0 komentar to “Kakak Beradik Pemakan Bensin”

Posting Komentar

 

MaMah (Mahasiswa musliMah) punya cerita Copyright © 2011 | Template design by O Pregador | Powered by Blogger Templates