“Boleh minjem pulpennya?” tanya
perempuan disebelahku. Dia berwajah kecil juga berbadan kurus (lebih kurus dari
aku), berambut pendek dan sedikit ikal. Penampilannya yang sederhana juga
sopan. “Oh, ini” kataku, sambil
memberikan pulpen kepadanya.
Owh, ternyata dia juga mahasiswa
baru jurusan kimia juga. Baguslah, setidaknya ada temen bicara. “Kenalkan, Elsa
Diana Putri”, “Oh, Santi”. Kurang lebih seperti itulah perkenalan pertama
dengan perempuan itu.
Yups. Elsa Diana Putri, teman
pertama yang aku temui semenjak syah menjadi mahasiswa baru jurusan kimia. Ada teman
satu lagi, Rudina. Kami (aku dan Elsa) bertemu dengan Dina ketika mengumpulkan
berkas formulir Mahasiswa dan sejenisnya ke pihak yang mengurusi di BAAK. Akhirnya
semenjak itu sampai beberapa jam kemudian, kami selalu bertiga. Dimulai dari
pemotretan KTM, keluar BAAK, sampai kaget ketika kakak tingkat teriak “KIMIAA!!!”
pun bersamaan. Ya, saat itu kami dibawa ke taman setelah keluar dari BAAK
(meskipun ada adegan nunggu yang nganter datang, karena yang nganter harus
perempuan lagi). Meskipun di taman itu aku bertemu dengan temen-temen yang lain
yang sudah terlebih dahulu daftar ulang dan ke taman itu, tetap saja, jika ada
apa-apa, menggantungkan ke Elsa atau Rudina. Dari sana lah, muncul panggilan
***** (buat anak Kimia dan sekitarnya, pasti tahulah, panggilannya apa) yang
dibuat khusus oleh Elsa. Alasannya, agar tidak panjang, jadi digabung saja.
-__________-
Yeah, pembuat nama panggilanku
itu yang asalnya berlaku untuk dia seorang, menyebar menjadi teman kelompok
belajar, kelas, pengurus himpunan, angkatan, sampai kakak tingkat yang beda
angkatan. Luar biazaaaaaaaa!! Membayangkan, ketika aku nikah dan di surat undangannya
menikah Santi Nur Aisyah S.Pd (*****)---> ditambah nama panggilan, dengan
tujuan agar temen kampus ‘ngeh’ Santi yang mana. Hadeuuuuh. Parah parah merusak
keindahan kartu undangan!! >___<
Lanjut. Elsa dan aku selain
sekelas bersama, juga ikut kepengurusan yang sama di departemen yang sama pula,
departemen Keuangan. Selain itu, kami juga sering ikut kepanitian di acara
departemen yang lain. Makin seringlah intensitas kami untuk bertemu. Beda pendapat?
Sering. Sehati? Bisa dihitung jari lah. Hehe. Mungkin karena waktu itu aku
lebih cuek, jadi aku jarang kena semprot (dibanding dengan temen yang lain) kalau
Elsa lagi marah. Hehe
Elsa, perempuan yang begitu
lincah. Lincah dalam hal apapun. Dalam hal mengerjakan tugas, aku salut deh. Dia
sifatnya selalu dadakan kalau membuat tugas, tapi selalu selesai tepat
waktunya. Entah pakai jurus apa. Dia lincah dalam bertindak, tipe pemimpin yang
keren menurut aku, apalagi ketika menjadi ketua pelaksana Seminar
Entreupreuner, keren banget deh. Dia begitu ahli dalam mengelola, baik
mengelola benda mati, atau hidup. Salah satunya mengelola uang, yang dari SMA
ini menjadi bendahara, tidak diragukan lagi deh dalam hal keuangan, malah
sekarang dia bisa bangun bisnis bimbingan belajar privat yang keuntunganya,
bisa membuat dia sebagai mahasiswi mandiri.(segala bayar pakai uang sendiri. Hehe)
saluuuuuuuut.
Menteri Pariwisata, gelar yang pas untuk dia
sandang, karena untuk hal jalan-jalan atau apapun yang sifatnya butuh
pengelola, dia selalu mengelola dengan baik. Aku sempat terpikir, mungkinkah
faktor dari SMA, dia bisa vokal seperti ini? Ternyata, menurut teman SMAnya,
dia memang pada dasarnya periang, pandai bicara, pintar meloby lebih tepatnya,
tidak heran kalau dia sangat komunikatif jika jadi MC atau Moderator dalam
presentasi. Cara penyampaian info ke orang, menurutku sudah baik, jelas, dan
sekali lagi, komunikatif.
Sifat anak kecilnya, mungkin
disebabkan dia anak bungsu. Namun, tahun demi tahun aku lewati bersama
dengannya, sifatnya itu sedikit demi sedikit berkurang, mungkin saja dalam masa
jadi mahasiswa, dia menemukan pembelajaran secara tidak langsung yang menuntut
dia dewasa. Perubahan yang bagus. Lanjutkan!
Banyak cerita-cerita seru dalam
tiga tahun ini aku lewat dengannya, ada sedih, senang, marah, gelisah, iri, pokonya
semua adaaa dan yang pasti tidak cukup waktu untuk menuliskan semua (ngetiknya
cape nih -___-). Yang pasti kenangan itu selalu disimpan dalam hati, tidak
hanya hal buruknya saja yang selalu disimpan sampai keluar dendam kesumat
(beuh,, nulis apaaa aku ini...) namun, hal baik yang pernah Elsa dan aku
lakukan, pasti akan kusimpan, kapan lagi punya teman macam Elsa, selain di kampus ini, sosok makhluk yang
disamping kekurangannya menyimpan kelebihan yang sangat luar biasa sekali (hoho
menggunakan kata yang tidak efektif). Bener-bener temanku yang multitalenta
deh!
Terakhir, aku paling senang
ketika dia pakai jilbab, meski memakainya saat musim PAI atau SPAI. Terlihat lebih
berisi dan cantik, dan emang pada dasarnya dia cantik, foto genik juga. Terharu
ketika suatu hari dia berbicara tentang keinginan yang terbesit untuk memakai
kerudung, disana aku bagaikan kakak yang memberi nasihat pada adiknya, meski
kenyataannya dia lahir duluan. 17 Mei, Allah telah memunculkan temanku ini. Harapanku, semakin umurnya bertambah, juga
menambah kedewasaan dia, sedikit- demi sedikit ia penuhi sebagai muslimah untuk
menutupi auratnya. Semangat cha p(^o^)q




