Senin, 07 Mei 2012

Pengaderan yang Tercemar

,
Sekarang, aku akan tulis ulang nih.. eh, mengopi lebih tepatnya,, tulisan aku yang aku tulis untuk syarat ikut Pendidikan Latihan Kepemimpinan Mahasiswa. hehe.. ini diaaaaaaaaa

“PUNYA MULUT GA??!!!!!” ,bentak kakak tingkat yang entah siapa karena mukanya terselimuti malam.
Acara tengah malam itu, tanpa jaket, selain membuat telinga kita sedikit sakit karena bentakan-bentakan, juga membuat tulang mati suri karena udara pegunungan  yang sangat dingin. Kejadian ini mengingatkan waktu awal masuk SMP .
Hari pertama masuk SMP kita dikenalkan dengan istilah MOS, yang sebelumnya tidak pernah diadakan saat masuk sekolah dasar. MOS merupakan singkatan dari Masa Orientasi Sekolah. Kita dikenalkan dengan lingkungan sekolah yang kita masuki. Hari yang paling menyenangkan adalah saat semua ekstra kulikurer menampilkan kegiatan mereka atau dikenal dengan demo. Untuk melatih kepemimpinan, sekolah mengadakan kemping juga. Isi kegiatannya sangat menyenangkan. Dilanjut pengkaderan anggota baru masuk PMR(organisasi yang dahulu diikuti) ternyata ada ritualnya, harus menginap dan malamnya ada acara bentakan, jurit malam dan sebagainya sebagai syarat sah jadi anggota.
Yeah! Lulus. Selamat datang dunia SMA. Hari pertama masuk sekolah disambut dengan namanya MOS juga. Berbeda jauh dengan MOS SMP. Ada bumbu-bumbu bentakan, senior yang jail, hukuman- hukuman yang sangat seru, namun tanpa ada kekerasan. Ternyata bentakan ini tidak diperuntukan untuk siswa baru, melainkan siswa lama yang nyamar menjadi siswa baru super nakal. Tapi MOS seperti ini lebih berkesan dibanding dengan MOS waktu SMP. Karena semasa SMA tidak mengikuti organisasi, jadi tidak mengalami ritual pengkaderan lagi.
Menuju dunia baru lagi. Awal masuk universitas, saat pendaftaran ulang, ternyata banyak kakak tingkat yang setia menunggu di luar. Mulai ada rasa takut ketika ada yang memanggil jurusan yang aku pilih, namun ternyata tidak seseram yang dibayangkan. Bayang-bayang ospek yang ternilai ‘menyeramkan’ ternyata beberapa kali diadakan. Ada tingkat universitas, juga jurusan (lihat juga Latihan Kepemimpinan Mahasiswa 2 (2) ). Masih beruntung tidak ada tingkat fakultas, prodi ataupun kelas.
“JAWAB!!”, bentakan itu membangunkan dari lamunan.
Pengkaderan yang saya pikirkan merupakan syarat menjadi anggota saja. Setelah naik tingkatan, dan ada anak baru, membuat acara pengkaderan lagi dan isi kegiatannya tak jauh beda dengan yang saya alami, malahan ingin dibuat lebih parah agar lebih merasakan betapa dinginnya malam, kuat mentalnya akibat bentakan-bentakan, intinya memuaskan nafsu balas dendam, itu yang ada dipikiran saya semasa SMP, semasa menjadi siswa.
Seiring waktu, setelah berubah status, dari siswa menjadi mahasiswa, mempunyai pikiran semasa SMP itu tidak berlaku lagi. Organisasi semasa SMP dengan organisasi semasa kuliah sangatlah berbeda. Setelah masuk ke sistem (red: masuk kepengurusan) ternyata pengaderan itu sangatlah penting. Di dalam pengaderan kita diberi ilmu tentang kepemimpinan dan segala ilmu yang dibutuhkan selama menjadi mahasiswa serta bekal di saat lulus nanti. Setelah pengaderan kita mengaplikasikan ilmu yang telah didapat bisa berupa kerja dalam kepanitiaan maupun berlatih mengabdi pada masyarakat. Jadi, pengaderan yang diadakan ini lebih banyak manfaatnya dibanding madhorotnya.
Dengan dasar tri darma perguruan tinggi dan peran mahasiswa, mahasiswa diperlukan kepekaan dan kekritisannya dalam menanggapi sesuatu, menggunakan daya nalarnya dalam menjawab persoalan yang ada, yang nanti saat terjun ke masyarakat, ilmu yang didapat bisa digunakan.
Bagaimana dengan pengaderan penuh perpeloncoan? Penuh kekerasan?


Perpeloncoan ini bisa berbagai bentuk, bisa berupa fisik (seperti menendang, menampar, mencakar dan sebagainya) maupun verbal (seperti memaki, meremehkan, merendahkan, dan sebagainya).
Pengaderan di kampus dikenal dengan Ospek atau Marpala dan sebagainya yang berbau kekerasan sebenarnya sudah ada sejak jaman Belanda. Kekerasan ini dilakukan oleh senior (kolonial Belanda) kepada junior orang pribumi(bangsa Indonesia) dengan tujuan agar orang pribumi tidak betah sekolah dan mereka tidak menginginkan orang pribumi menjadi pintar. Ternyata tradisi yang ditinggalkan oleh kolonial ini berbekas sampai sekarang meski tujuannya berbeda.
Sebagai kaum intelektual, perpeloncoan semacam ini tidak dibutuhkan saat diperkuliahan maupun setelah lulus nanti. Perpeloncoan ini telah memakan banyak korban seperti Wisnu di STSN, Wahyu di STPDN, dan yang lainnya. Mereka diduga meninggal akibat pukulan dari seniornya. Ospek ala militer ini boleh berlaku untuk instansi yang mahasiswanya tidak hanya otaknya encer tapi butuh fisik yang kuat juga, dengan pengawasan yang ketat agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan. Namun untuk universitas yang pada dasarnya bukan mencetak mahasiswa berbadan kuat dan tagap, jenis kekerasan tidaklah perlu. Karena ini berefek pada kecemasan orang tua. Orang tua akan khawatir di saat masa-masa ospek itu dimulai. Pikirkanlah perasaan mereka yang ingin menyekolahkan anaknya dan berharap anaknya menjadi orang sukses.
Mengutip dari sambutan pembantu Direktur III PNUP(Politeknik Negeri Ujung Pandang) “ Kedepannya pengkaderan tidak lagi menyita waktu, tenaga apalagi uang, dan bukan lagi zamannya pengkaderan perpeloncoan dan pelecehan. Yang dibutuhkan adalah pengkaderan yang memberikan pelajaran”. Yup, setuju!`
Jadi, pengaderan yang bersifat mendidik sangat penting dan bermanfaat. Pengaderan ini mesti diadakan dengan konsepan yang baik dan dikaitkan dengan kebutuhan instansi itu sendiri. So, Perpeloncoan dalam pengaderan?? Gak level !!









2 komentar to “Pengaderan yang Tercemar”

  • 7 Mei 2012 pukul 15.16

    sepatu! sepakat dan stuju :)
    nice posting deh :)
    tp sk msh ada tuh perpeloncoan dg alasan bls dendam *katanya*, iiihhh ga level bgt ya?!!hehe

  • 7 Mei 2012 pukul 15.33

    haha.. iyeeeee..

Posting Komentar

 

MaMah (Mahasiswa musliMah) punya cerita Copyright © 2011 | Template design by O Pregador | Powered by Blogger Templates