Sekarang, aku akan tulis ulang nih.. eh, mengopi lebih tepatnya,, tulisan aku yang aku tulis untuk syarat ikut Pendidikan Latihan Kepemimpinan Mahasiswa. hehe.. ini diaaaaaaaaa
“PUNYA MULUT GA??!!!!!” ,bentak kakak tingkat yang entah siapa karena mukanya terselimuti malam.
“PUNYA MULUT GA??!!!!!” ,bentak kakak tingkat yang entah siapa karena mukanya terselimuti malam.
Acara tengah
malam itu, tanpa jaket, selain membuat telinga kita sedikit sakit karena
bentakan-bentakan, juga membuat tulang mati suri karena udara pegunungan yang sangat dingin. Kejadian ini mengingatkan
waktu awal masuk SMP .
Hari
pertama masuk SMP kita dikenalkan dengan istilah MOS, yang sebelumnya tidak
pernah diadakan saat masuk sekolah dasar. MOS merupakan singkatan dari Masa
Orientasi Sekolah. Kita dikenalkan dengan lingkungan sekolah yang kita masuki. Hari
yang paling menyenangkan adalah saat semua ekstra kulikurer menampilkan
kegiatan mereka atau dikenal dengan demo. Untuk melatih kepemimpinan, sekolah
mengadakan kemping juga. Isi kegiatannya sangat menyenangkan. Dilanjut pengkaderan
anggota baru masuk PMR(organisasi yang dahulu diikuti) ternyata ada ritualnya,
harus menginap dan malamnya ada acara bentakan, jurit malam dan sebagainya
sebagai syarat sah jadi anggota.
Yeah!
Lulus. Selamat datang dunia SMA. Hari pertama masuk sekolah disambut dengan
namanya MOS juga. Berbeda jauh dengan MOS SMP. Ada bumbu-bumbu bentakan, senior
yang jail, hukuman- hukuman yang sangat seru, namun tanpa ada kekerasan. Ternyata
bentakan ini tidak diperuntukan untuk siswa baru, melainkan siswa lama yang
nyamar menjadi siswa baru super nakal. Tapi MOS seperti ini lebih berkesan
dibanding dengan MOS waktu SMP. Karena semasa SMA tidak mengikuti organisasi,
jadi tidak mengalami ritual pengkaderan lagi.
Menuju
dunia baru lagi. Awal masuk universitas, saat pendaftaran ulang, ternyata
banyak kakak tingkat yang setia menunggu di luar. Mulai ada rasa takut ketika
ada yang memanggil jurusan yang aku pilih, namun ternyata tidak seseram yang
dibayangkan. Bayang-bayang ospek yang ternilai ‘menyeramkan’ ternyata beberapa
kali diadakan. Ada tingkat universitas, juga jurusan (lihat juga Latihan Kepemimpinan Mahasiswa 2 (2) ). Masih beruntung tidak ada
tingkat fakultas, prodi ataupun kelas.
“JAWAB!!”,
bentakan itu membangunkan dari lamunan.
Pengkaderan
yang saya pikirkan merupakan syarat menjadi anggota saja. Setelah naik
tingkatan, dan ada anak baru, membuat acara pengkaderan lagi dan isi
kegiatannya tak jauh beda dengan yang saya alami, malahan ingin dibuat lebih
parah agar lebih merasakan betapa dinginnya malam, kuat mentalnya akibat
bentakan-bentakan, intinya memuaskan nafsu balas dendam, itu yang ada dipikiran
saya semasa SMP, semasa menjadi siswa.
Seiring
waktu, setelah berubah status, dari siswa menjadi mahasiswa, mempunyai pikiran
semasa SMP itu tidak berlaku lagi. Organisasi semasa SMP dengan organisasi
semasa kuliah sangatlah berbeda. Setelah masuk ke sistem (red: masuk
kepengurusan) ternyata pengaderan itu sangatlah penting. Di dalam pengaderan
kita diberi ilmu tentang kepemimpinan dan segala ilmu yang dibutuhkan selama
menjadi mahasiswa serta bekal di saat lulus nanti. Setelah pengaderan kita
mengaplikasikan ilmu yang telah didapat bisa berupa kerja dalam kepanitiaan
maupun berlatih mengabdi pada masyarakat. Jadi, pengaderan yang diadakan ini
lebih banyak manfaatnya dibanding madhorotnya.
Dengan
dasar tri darma perguruan tinggi dan peran mahasiswa, mahasiswa diperlukan
kepekaan dan kekritisannya dalam menanggapi sesuatu, menggunakan daya nalarnya
dalam menjawab persoalan yang ada, yang nanti saat terjun ke masyarakat, ilmu
yang didapat bisa digunakan.
Bagaimana
dengan pengaderan penuh perpeloncoan? Penuh kekerasan?
Perpeloncoan ini bisa berbagai bentuk, bisa berupa fisik (seperti menendang, menampar, mencakar dan sebagainya) maupun verbal (seperti memaki, meremehkan, merendahkan, dan sebagainya).
Pengaderan
di kampus dikenal dengan Ospek atau Marpala dan sebagainya yang berbau
kekerasan sebenarnya sudah ada sejak jaman Belanda. Kekerasan ini dilakukan
oleh senior (kolonial Belanda) kepada junior orang pribumi(bangsa Indonesia)
dengan tujuan agar orang pribumi tidak betah sekolah dan mereka tidak
menginginkan orang pribumi menjadi pintar. Ternyata tradisi yang ditinggalkan
oleh kolonial ini berbekas sampai sekarang meski tujuannya berbeda.
Sebagai
kaum intelektual, perpeloncoan semacam ini tidak dibutuhkan saat diperkuliahan
maupun setelah lulus nanti. Perpeloncoan ini telah memakan banyak korban
seperti Wisnu di STSN, Wahyu di STPDN, dan yang lainnya. Mereka diduga
meninggal akibat pukulan dari seniornya. Ospek ala militer ini boleh berlaku
untuk instansi yang mahasiswanya tidak hanya otaknya encer tapi butuh fisik
yang kuat juga, dengan pengawasan yang ketat agar terhindar dari hal yang tidak
diinginkan. Namun untuk universitas yang pada dasarnya bukan mencetak mahasiswa
berbadan kuat dan tagap, jenis kekerasan tidaklah perlu. Karena ini berefek
pada kecemasan orang tua. Orang tua akan khawatir di saat masa-masa ospek itu
dimulai. Pikirkanlah perasaan mereka yang ingin menyekolahkan anaknya dan
berharap anaknya menjadi orang sukses.
Mengutip
dari sambutan pembantu Direktur III PNUP(Politeknik Negeri Ujung Pandang) “
Kedepannya pengkaderan tidak lagi menyita waktu, tenaga apalagi uang, dan bukan
lagi zamannya pengkaderan perpeloncoan dan pelecehan. Yang dibutuhkan adalah
pengkaderan yang memberikan pelajaran”. Yup, setuju!`
Jadi,
pengaderan yang bersifat mendidik sangat penting dan bermanfaat. Pengaderan ini
mesti diadakan dengan konsepan yang baik dan dikaitkan dengan kebutuhan
instansi itu sendiri. So, Perpeloncoan dalam pengaderan?? Gak level !!





sepatu! sepakat dan stuju :)
nice posting deh :)
tp sk msh ada tuh perpeloncoan dg alasan bls dendam *katanya*, iiihhh ga level bgt ya?!!hehe
haha.. iyeeeee..