Selasa, 3 April 2012, 21.00 WIB. Malam itu,
aku lagi sibuk-sibuknya menyiapkan bahan materi untuk mengerjakan tugas, juga
belajar untuk ujian besok. Satu paragraf, dua paragraf, tertulis di buku
tugasku. Aku melirik handphone di
sebelah buku tugasku yang dari tadi belum aku buka. Ternyata ada beberapa misscall dari nomor yang tidak dikenal.
Semenit setelah itu, ternyata handphoneku
bergetar lagi, panggilan masuk dengan nomor yang berbeda. Wah, perlu
diangkatkah?
“Halo, assalamualaikum?”,
“waalaikumsalam. Ini Santi?”, “iya”,
“Ini teh Deti, Santi ikut daftar pengurus REMA kan?”, “Iya teh” , “gini, teteh
dititip amanah dari kang Hamdan, nanya ke Santi untuk jadi Dirjend keuangan
internal, bersedia?”, “oh, masuk di keuangan internal... iya Teh, terus Teh?”,
waktu itu pikiranku masih fokus ke tugas, jadi tidak ‘ngeh’ apa yang
dibicarakan oleh teh Deti. “iya, tadi itu kang Hamdan mau menyampaikan langsung
ke Santi, tapi tidak enak malam-malam nelpon” , “wah, jangan-jangan yang tadi misscall itu kang Hamdan?”, “iya. Jadi
bagaimana San, bersedia?”, “oh, iya, jadi staf keuangan internal kan Teh?”,
“bukan San, jadi Dirjend”, “apa Teh? Dirjend?”, “iya, Dirjend”, “Dirjend?
(mencoba mencerna kata tersebut) HAAH, DIRJEEEND???!” teriakku. Malam itu
seperti ada sengatan listrik yang tiba-tiba menyerang syarafku. Percakapan
berikutnya lebih ke mengapa aku dijadikan dirjend. Akhirnya keputusanku dipending sampai besok pagi.
Tugasku yang sedari tadi melambai-lambai untuk
cepat dikerjakan, bahan ujian yang sedari tadi menunggu setia untuk aku baca,
tidak aku sentuh untuk 3 jam ke depan. Telepon tadi membuat aku bingung, bahasa
kerennya, galau. Kubuka lagi web, membaca tugas-tugas sebagai Dirjend. Merenung sejenak, mengerjakan
tugas kampus terlebih dahulu. Semenit kemudian kembali merenung. Aku tanya yang
berhubungan dengan ‘Dirjend’. Sms dikirim ke berbagai nomor yang sekiranya bisa
membantu. Waktu menunjukan pukul 12, namun tidak ada yang menjawab, hanya teh
Millati seorang. Semakin galau dengan jawaban teh Millati. Dibaca-baca kembali
tugas sebagai Dirjend internal, setelah dihayati, tugasnya tidak jauh berbeda
dengan yang biasa aku lakukan di himpunan. Paginya aku menjawab tawaran teh
Deti, dan aku jawab iya.
4 April 2012, pelantikan pengurus, dan aku
masih belum ‘ngeh’ kalau aku pengurus, menjadi Dirjend pula. Berakhirnya
pelantikan, berakhirnya pula ujianku (baca: ujian tes unit). Karena bentrok
ujian, jadi aku tidak mengikuti pelantikan di Tugu Pahlawan. Kudapati kesan
pertama di hari pertama. Menjadi pengurus itu, bikin galau.
Jumat, 6 April 2012. Pertama kalinya berkumpul
dengan Menteri keuangan, Dewi, dan Dirjend keuangan eksternal , Urlim. Sosok
menteri yang terlihat bijaksana, menurutku. Dan saat itu kami mencoba mengenal
lebih dekat satu sama lain sebelum bertemu staf di hari Seninnya. Aku masih
sedikit canggung saat mengobrol dengan mereka. Urlim yang sudah berkecimplung
di REMA, Dewi yang berlatar Akutansi, membuat aku menjadi orang yang tidak tahu
apa-apa di antara mereka. Hehehe. Tapi kecanggunganku dan pemikiranku seperti
ini hanya berlaku sehari itu saja. Kesan kedua di hari ketiga, menjadi
pengurus, tidak ada yang tinggi, maupun rendah, semua sama dalam satu tujuan.
Senin, 9 April 2012. Pertama kalinya masuk
sekre dengan perasaan tidak menentu. Deg-degan. Awalnya tidak berani masuk lewat
pintu depan. Jadi, masuk pintu yang satunya lagi itu pun setelah disuruh masuk oleh
Dewi. Sendiri. Ya, seperti orang autis yang hanya asyik dengan dunianya
sendiri. Namun, keautisanku hanya beberapa menit, karena Dewi akan kuliah,
sehingga aku menggantikannya mengurusi pembagian iuran kemahasiswaan ke
ukm-ukm.
Saat itu, pertama kalinya mengobrol dengan
orang yang tidak dikenal, dan ternyata dia presiden REMA, kang Hamdan (foto
kampanye dengan aslinya, berbeda, jadi sedikit pangling. Hhe). Pertama kali
juga bertanya ke orang yang tidak dikenal dan dijawab sedikit tidak mengenakan.
Hehe. Dan baru kutahu, ternyata dia salah satu menteri. Pertama kali juga
bertemu dengan teman-teman keuangan yang lainnya, yang akhirnya tahu, dominan
dari FPEB, dan FPMIPA hanya aku seorang. Dua minggu lamanya, hal seperti ini
menjadi rutinitas, pergi ke sekre (dan pastinya lewat pintu belakang dan
merenung sejenak), jaga dan membagikan dana IUK, mengobrol dengan anak keuangan
(kalau tidak ada anak keuangan, ya tidak mengobrol), dan satu persatu bertemu
dengan pengurus REMA. Kesan ketiga, hal terberat itu, melawan rasa takut untuk
memulai, memulai apapun, termasuk memulai masuk sekre. Hehe
Aku mempunyai target dan target ini berlaku
juga untuk anak- anak keuangan internal. Harus hafal nama dan wajah pengurus
BEM REMA, minimal mengetahui para Menteri dan Dirjend sebelum rapat kerja
dimulai. Masih ada waktu seminggu untuk mencoba mengenal mereka. Untuk pengurus
perempuan, tidak begitu sulit, tapi tidak sedikit juga yang masih canggung
ketika mengobrol. Untuk pengurus laki-laki terutama menterinya, aku kenal
mereka dengan bertanya ke pengurus perempuan. Ternyata sosialisasi itu susah
ya? Hhuwaaa
Yups. Untuk kali ini, bersosialisasi atau
membaur dengan mereka memang susah, bagaimana tidak? Datang ke sekre memang
sering, tapi masuknya lewat pintu belakang. Jadi, kadang orang-orang yang ada
di depan, tidak sadar kalau ada aku di belakang sekre. Seperti adegan aku SMSan
dengan Nuy, padahal sama-sama di sekre, hanya terhalang lemari. Terus, ketika
DPM dari kimia, teh Millati melihat aku yang berkencan dengan laptop di
belakang sekre sendiri, sedangkan yang lain ada di depan, “Santi, kenapa
sendiri aja? Gabung atuh sama yang lain, jangan hanya ngobrol sama Indra dan
Acha aja..” ,“lagi ngerjain tugas Teh” sanggahku. Hehe sebenarnya tugas hanya
alibi, tapi tidak semua alibi kok. Hhoho. Kesan keempat, ternyata menjadi orang
yang ‘gaib’ (baca: ada tapi tidak terlihat) itu tidak mengenakkan yah? Hhaha.
Konsultasi sering dilakukan, ngobrol dengan
teh Gina, teh Nurani, teh Tri, pokoknya transfer ilmu dan pengalaman tahun
kemarin. Kata yang menjadi artis saat itu adalah “tegas”. Baik teh Gina, teh
Nurani, teh Tri, selalu bilang “San, nanti kamu harus tegas ya”, “San, dirimu
yang pegang kendali dalam masalah uang, jadi harus tegas kalau ada yang minta
uang”, “San, kamu bukan ATM, didekati karena ada butuhnya saja, kamu harus
tegas dalam mengatur uang, sekali pun presiden yang minta uang, harus sesuai
prosedur”, “San, harus kuat mental pokoknya mah”, “San,...”, “San,...” wah
tekanan batin deh. Begitu mengerikankah di keuangan? Sampai tahun kemarin
banyak kader yang hilang. Sempat terpikir, keluar saja gitu ya? Menyesal karena
menerima jadi dirjend. Tapi, pikiran itu lenyap ketika melihat anak- anak
keuangan, Dewi, Urlim, Nira, Fitri, Rizal, Keuis, Nurul, Eka, restu, Dea, dan
Anggun yang begitu semangat dan kompak. Teringat saat menjadi staf keuangan di
himpunan, dua tahun yang lalu, meski cape mengurus uang, mencari tambahan uang,
tapi kami senang menjalaninya. Jadi, jalani sajalah, amanah akan tertembak pada
orang yang tepat. Kesan kelima, menjadi pengurus BEM REMA itu, memang harus
siap mental!
Karakter tegas coba aku terapkan, namun belum
juga diterapkan, isu-isu tentang aku yang begitu galak, tegas, sinis, dan
lain-lain menyebar begitu saja. Lho... kok? Tidak heran sih, muka aku memang
menggambarkan itu semua, tapi aslinya baik hati, tidak sombong, dan rajin
menabung kok :D. Akhirnya beberapa orang segan berbicara padaku, dan ini
terjadi sebulan pertama menjadi pengurus. Haha. Nasib jadi seorang aktris yang
hebat seperti ini nih! :D .
Sabtu-Minggu, 21-22 April 2012, Rapat Kerja
dan Upgrading. Dua kegiatan yang berbeda kostum juga karakter. Saat rapat kerja, orang-orang dengan
jasternya terlihat begitu berwibawa, saat mempresentasikan program kerja maupun
saat sesi tanya jawab. Namun, saat upgrading, sifat ‘kekanak-kanakannya’ muncul
tapi hal itu lah yang membuat setidaknya bisa mendekatkan antar pengurus. Seru!
Dan untuk seseorang yang kadonya jatuh ditanganku, kado yang bagus, alhamdulillah bermanfaat :D . Kesan
keenam, kenali pengurus luar dalam itu lebih dasyat!
Piket! Ya, piket ini ku jadikan media
sosialisasi dengan semua pengurus. Dan semua menteri (khususnya menteri
laki-laki) satu persatu mulai berani bicara tentang keuangan denganku, biasanya
kan, selalu ke Dewi. Hehe. Aku mulai memberanikan diri untuk mulai bergabung
dengan yang lain, seperti diam di bagian depan sekre (tidak menyendiri di
belakang sekre lagi), ngobrol, bercanda dengan yang lain, dan lain-lain deh. Dan
aku pun, menginginkan anak-anak keuangan lainnya khususnya internal, bisa
bersosialisasi juga dengan pengurus yang lain. Jangan mencontoh Dirjendnya deh!
‘galak’, ‘sinis’, ‘tegas’ saat menjalankan tugas saja, ketika orang minta uang,
maksudnya. Untuk kesaharian, jadi diri sendiri saja! Kesan ketujuh, komunikasi
sesama pengurus itu memang bisa mendekatkan ya..
Sampailah di hari ke 40, tepat setelah tugas
piket telah dijalani. Selalu ada kesan tiap harinya baik saat di sekre, rapat
kerja, upgrading, rapat pimpinan, rapat kementrian, rapat dirjend, saat ada
tamu, sedih, senang, marah, gelisah, kecewa, gembira, pokoknya sejauh ini
kesanku menjadi pengurus.... meminjam kata cherrybelle, ISTIMEWA! :D




