Selasa, 22 Mei 2012

40 Hari Mencari Kesan

,
Selasa, 3 April 2012, 21.00 WIB. Malam itu, aku lagi sibuk-sibuknya menyiapkan bahan materi untuk mengerjakan tugas, juga belajar untuk ujian besok. Satu paragraf, dua paragraf, tertulis di buku tugasku. Aku melirik handphone di sebelah buku tugasku yang dari tadi belum aku buka. Ternyata ada beberapa misscall dari nomor yang tidak dikenal. Semenit setelah itu, ternyata handphoneku bergetar lagi, panggilan masuk dengan nomor yang berbeda. Wah, perlu diangkatkah?
“Halo, assalamualaikum?”, “waalaikumsalam. Ini Santi?”, “iya”, “Ini teh Deti, Santi ikut daftar pengurus REMA kan?”, “Iya teh” , “gini, teteh dititip amanah dari kang Hamdan, nanya ke Santi untuk jadi Dirjend keuangan internal, bersedia?”, “oh, masuk di keuangan internal... iya Teh, terus Teh?”, waktu itu pikiranku masih fokus ke tugas, jadi tidak ‘ngeh’ apa yang dibicarakan oleh teh Deti. “iya, tadi itu kang Hamdan mau menyampaikan langsung ke Santi, tapi tidak enak malam-malam nelpon” , “wah, jangan-jangan yang tadi misscall itu kang Hamdan?”, “iya. Jadi bagaimana San, bersedia?”, “oh, iya, jadi staf keuangan internal kan Teh?”, “bukan San, jadi Dirjend”, “apa Teh? Dirjend?”, “iya, Dirjend”, “Dirjend? (mencoba mencerna kata tersebut) HAAH, DIRJEEEND???!” teriakku. Malam itu seperti ada sengatan listrik yang tiba-tiba menyerang syarafku. Percakapan berikutnya lebih ke mengapa aku dijadikan dirjend. Akhirnya keputusanku dipending sampai besok pagi. 
Tugasku yang sedari tadi melambai-lambai untuk cepat dikerjakan, bahan ujian yang sedari tadi menunggu setia untuk aku baca, tidak aku sentuh untuk 3 jam ke depan. Telepon tadi membuat aku bingung, bahasa kerennya, galau. Kubuka lagi web, membaca tugas-tugas  sebagai Dirjend. Merenung sejenak, mengerjakan tugas kampus terlebih dahulu. Semenit kemudian kembali merenung. Aku tanya yang berhubungan dengan ‘Dirjend’. Sms dikirim ke berbagai nomor yang sekiranya bisa membantu. Waktu menunjukan pukul 12, namun tidak ada yang menjawab, hanya teh Millati seorang. Semakin galau dengan jawaban teh Millati. Dibaca-baca kembali tugas sebagai Dirjend internal, setelah dihayati, tugasnya tidak jauh berbeda dengan yang biasa aku lakukan di himpunan. Paginya aku menjawab tawaran teh Deti, dan aku jawab iya.
4 April 2012, pelantikan pengurus, dan aku masih belum ‘ngeh’ kalau aku pengurus, menjadi Dirjend pula. Berakhirnya pelantikan, berakhirnya pula ujianku (baca: ujian tes unit). Karena bentrok ujian, jadi aku tidak mengikuti pelantikan di Tugu Pahlawan. Kudapati kesan pertama di hari pertama. Menjadi pengurus itu, bikin galau.
Jumat, 6 April 2012. Pertama kalinya berkumpul dengan Menteri keuangan, Dewi, dan Dirjend keuangan eksternal , Urlim. Sosok menteri yang terlihat bijaksana, menurutku. Dan saat itu kami mencoba mengenal lebih dekat satu sama lain sebelum bertemu staf di hari Seninnya. Aku masih sedikit canggung saat mengobrol dengan mereka. Urlim yang sudah berkecimplung di REMA, Dewi yang berlatar Akutansi, membuat aku menjadi orang yang tidak tahu apa-apa di antara mereka. Hehehe. Tapi kecanggunganku dan pemikiranku seperti ini hanya berlaku sehari itu saja. Kesan kedua di hari ketiga, menjadi pengurus, tidak ada yang tinggi, maupun rendah, semua sama dalam satu tujuan.
Senin, 9 April 2012. Pertama kalinya masuk sekre dengan perasaan tidak menentu. Deg-degan. Awalnya tidak berani masuk lewat pintu depan. Jadi, masuk pintu yang satunya lagi itu pun setelah disuruh masuk oleh Dewi. Sendiri. Ya, seperti orang autis yang hanya asyik dengan dunianya sendiri. Namun, keautisanku hanya beberapa menit, karena Dewi akan kuliah, sehingga aku menggantikannya mengurusi pembagian iuran kemahasiswaan ke ukm-ukm.
Saat itu, pertama kalinya mengobrol dengan orang yang tidak dikenal, dan ternyata dia presiden REMA, kang Hamdan (foto kampanye dengan aslinya, berbeda, jadi sedikit pangling. Hhe). Pertama kali juga bertanya ke orang yang tidak dikenal dan dijawab sedikit tidak mengenakan. Hehe. Dan baru kutahu, ternyata dia salah satu menteri. Pertama kali juga bertemu dengan teman-teman keuangan yang lainnya, yang akhirnya tahu, dominan dari FPEB, dan FPMIPA hanya aku seorang. Dua minggu lamanya, hal seperti ini menjadi rutinitas, pergi ke sekre (dan pastinya lewat pintu belakang dan merenung sejenak), jaga dan membagikan dana IUK, mengobrol dengan anak keuangan (kalau tidak ada anak keuangan, ya tidak mengobrol), dan satu persatu bertemu dengan pengurus REMA. Kesan ketiga, hal terberat itu, melawan rasa takut untuk memulai, memulai apapun, termasuk memulai masuk sekre. Hehe 
Aku mempunyai target dan target ini berlaku juga untuk anak- anak keuangan internal. Harus hafal nama dan wajah pengurus BEM REMA, minimal mengetahui para Menteri dan Dirjend sebelum rapat kerja dimulai. Masih ada waktu seminggu untuk mencoba mengenal mereka. Untuk pengurus perempuan, tidak begitu sulit, tapi tidak sedikit juga yang masih canggung ketika mengobrol. Untuk pengurus laki-laki terutama menterinya, aku kenal mereka dengan bertanya ke pengurus perempuan. Ternyata sosialisasi itu susah ya? Hhuwaaa
Yups. Untuk kali ini, bersosialisasi atau membaur dengan mereka memang susah, bagaimana tidak? Datang ke sekre memang sering, tapi masuknya lewat pintu belakang. Jadi, kadang orang-orang yang ada di depan, tidak sadar kalau ada aku di belakang sekre. Seperti adegan aku SMSan dengan Nuy, padahal sama-sama di sekre, hanya terhalang lemari. Terus, ketika DPM dari kimia, teh Millati melihat aku yang berkencan dengan laptop di belakang sekre sendiri, sedangkan yang lain ada di depan, “Santi, kenapa sendiri aja? Gabung atuh sama yang lain, jangan hanya ngobrol sama Indra dan Acha aja..” ,“lagi ngerjain tugas Teh” sanggahku. Hehe sebenarnya tugas hanya alibi, tapi tidak semua alibi kok. Hhoho. Kesan keempat, ternyata menjadi orang yang ‘gaib’ (baca: ada tapi tidak terlihat) itu tidak mengenakkan yah? Hhaha.
Konsultasi sering dilakukan, ngobrol dengan teh Gina, teh Nurani, teh Tri, pokoknya transfer ilmu dan pengalaman tahun kemarin. Kata yang menjadi artis saat itu adalah “tegas”. Baik teh Gina, teh Nurani, teh Tri, selalu bilang “San, nanti kamu harus tegas ya”, “San, dirimu yang pegang kendali dalam masalah uang, jadi harus tegas kalau ada yang minta uang”, “San, kamu bukan ATM, didekati karena ada butuhnya saja, kamu harus tegas dalam mengatur uang, sekali pun presiden yang minta uang, harus sesuai prosedur”, “San, harus kuat mental pokoknya mah”, “San,...”, “San,...” wah tekanan batin deh. Begitu mengerikankah di keuangan? Sampai tahun kemarin banyak kader yang hilang. Sempat terpikir, keluar saja gitu ya? Menyesal karena menerima jadi dirjend. Tapi, pikiran itu lenyap ketika melihat anak- anak keuangan, Dewi, Urlim, Nira, Fitri, Rizal, Keuis, Nurul, Eka, restu, Dea, dan Anggun yang begitu semangat dan kompak. Teringat saat menjadi staf keuangan di himpunan, dua tahun yang lalu, meski cape mengurus uang, mencari tambahan uang, tapi kami senang menjalaninya. Jadi, jalani sajalah, amanah akan tertembak pada orang yang tepat. Kesan kelima, menjadi pengurus BEM REMA itu, memang harus siap mental!
Karakter tegas coba aku terapkan, namun belum juga diterapkan, isu-isu tentang aku yang begitu galak, tegas, sinis, dan lain-lain menyebar begitu saja. Lho... kok? Tidak heran sih, muka aku memang menggambarkan itu semua, tapi aslinya baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung kok :D. Akhirnya beberapa orang segan berbicara padaku, dan ini terjadi sebulan pertama menjadi pengurus. Haha. Nasib jadi seorang aktris yang hebat seperti ini nih! :D . 
Sabtu-Minggu, 21-22 April 2012, Rapat Kerja dan Upgrading. Dua kegiatan yang berbeda kostum juga karakter.  Saat rapat kerja, orang-orang dengan jasternya terlihat begitu berwibawa, saat mempresentasikan program kerja maupun saat sesi tanya jawab. Namun, saat upgrading, sifat ‘kekanak-kanakannya’ muncul tapi hal itu lah yang membuat setidaknya bisa mendekatkan antar pengurus. Seru! Dan untuk seseorang yang kadonya jatuh ditanganku, kado yang bagus, alhamdulillah bermanfaat :D . Kesan keenam, kenali pengurus luar dalam itu lebih dasyat!
Piket! Ya, piket ini ku jadikan media sosialisasi dengan semua pengurus. Dan semua menteri (khususnya menteri laki-laki) satu persatu mulai berani bicara tentang keuangan denganku, biasanya kan, selalu ke Dewi. Hehe. Aku mulai memberanikan diri untuk mulai bergabung dengan yang lain, seperti diam di bagian depan sekre (tidak menyendiri di belakang sekre lagi), ngobrol, bercanda dengan yang lain, dan lain-lain deh. Dan aku pun, menginginkan anak-anak keuangan lainnya khususnya internal, bisa bersosialisasi juga dengan pengurus yang lain. Jangan mencontoh Dirjendnya deh! ‘galak’, ‘sinis’, ‘tegas’ saat menjalankan tugas saja, ketika orang minta uang, maksudnya. Untuk kesaharian, jadi diri sendiri saja! Kesan ketujuh, komunikasi sesama pengurus itu memang bisa mendekatkan ya..
Sampailah di hari ke 40, tepat setelah tugas piket telah dijalani. Selalu ada kesan tiap harinya baik saat di sekre, rapat kerja, upgrading, rapat pimpinan, rapat kementrian, rapat dirjend, saat ada tamu, sedih, senang, marah, gelisah, kecewa, gembira, pokoknya sejauh ini kesanku menjadi pengurus.... meminjam kata cherrybelle, ISTIMEWA! :D



0 komentar to “40 Hari Mencari Kesan”

Posting Komentar

 

MaMah (Mahasiswa musliMah) punya cerita Copyright © 2011 | Template design by O Pregador | Powered by Blogger Templates