Untuk kali ini, mungkin terasa berbeda dari segi bahasa maupun cerita yang saya (hehe, kali ini pakai kata 'saya' saja yaa) tulis, tulisan ini saya tulis ketika mau menjadi pengurus BEM REMA UPI, salah satu syarat untuk ikut kepengurusan ini yaitu harus mengumpulkan karya tulis dengan tema "persoalan ormawa pada saat ini" . Nah, dari pada tulisanku ini dikonsumsi hanya untuk panitia formatur kepanitiaan pengurus BEM REMA, dan selalu disimpan di laptop nanti basi, ya udah disimpan di sini saja. hehe ... berikut tulisankuuu.. hehe
Isu
ormawa di kampus sebenarnya banyak sekali. Dari yang terhot bahkan sampai tercool
sekalipun ada. Namun, bukan dari masalahnya saja yang patut kita bicarakan atau
bahkan dikembangbiakan sampai tidak terhenti, akan tetapi solusi apa yang kita
punya untuk meredam, mereduksi, mengeliminasi dan sejenisnya sebagai mahasiswa.
Tidak dipungkiri jika ada sebagian mahasiswa yang tidak peduli akan ormawa yang
beredar di kampus. Tergantung orang yang memandangnya, apakah ormawa tersebut
sebagai wadah inspirasi mahasiswa atau hanya kumpulan yang dapat mengganggu
akademik saja.
Saya
bukan dari jurusan dari akutansi ataupun ekonomi dan sejenisnya, namun saya
lebih tertarik untuk membicarakan masalah kesejahteraan mahasiswa dalam
ber-ormawa khususnya dalam masalah uang atau agar lebih indah kita sebut dana.
Untuk masalah dana memang sangat sensitif. Tidak jarang ada aksi mahasiswa terkait
dana.
Saya
kebetulan pernah mengikuti beberapa ormawa
di kampus ini. Jika disorot tentang keuangannya, tiap ormawa berbeda-beda dalam
mendapatkannya, mengolahnya ataupun dalam menggunakannya. Ada yang bersusah
payah mengadakan kegiatan untuk warganya sekalipun tidak ada dana. Ada yang
adem ayem melaksanakan kegiatan karena dana memang selalu ada. Ada yang susah
payah membuat kegiatan yang menurut saya itu tidak penting dengan tujuan untuk
menghabiskan dana.
Sistem
keuangan yang diberlakukan oleh petinggi ke ormawa kurang lebih dua tahun yang
lalu, menurut saya sangat memberatkan mahasiswa, dan terlihat tidak ada-nya
kepercayaan terhadap mahasiswa, yang diberlakukan sistem pengambilan uang IUK
maru dengan bertahap. Takut dikorupsikah? Berapa rupiahkah yang mampu mahasiswa
korupsi?
Untuk
pelaporan pengeluaran keuangan tahun demi tahun ada perubahan, menuntut agar
mahasiswa bertanggungjawab apa yang mereka lakukan terhadap uang yang bukan
seluruhnya haknya, menuntut agar transparan dalam transaksi menggunakan dana
tersebut. Namun, apakah para petinggi melakukan hal yang sama? Sedetail
mahasiswa kah? Apakah kwitansi atau bon yang dilampirkan benar-benar asli?
Bicara
tentang bon atau faktur belanja, saya pernah fotokopi sesuatu, untuk keperluan
ormawa di tempat fotokopian yang tempatnya selalu ramai karena lokasinya dekat
dengan salah satu gedung fakultas yang ada di UPI ini. Ketika itu saya menawar
harga, dari Rp. 12.000 saya tawar
menjadi Rp. 10.000 dengan usaha jungkir balik agar dapat potongan harga.
Setelah beberapa menit kemudian akhirnya berhasil saya tawar. Saya meminta
untuk dituliskan di bon, sebagai bukti belanja. Namun apa yang terjadi? Tukang
fotokopian tersebut menuliskan Rp. 12.000 , protes saya lakukan. “Bayarnya ya
sepuluh ribu aja Teh” kata tukang fotokopian tersebut. Astagfirullah.. secara tidak langsung tukang fotokopian tersebut
mengajarkan pembelinya berkorupsi, atau memang terbiasa ketika mendapati
pembeli yang tawar-menawar lalu memakai bon, tujuannya kearah agar si pembeli
dapat keuntungan lebih dari bon tersebut. Saat itu saya membuat malu tukang
fotokopian terhadap apa yang ia lakukan, semoga jera.
Tidak
hanya itu saja, saya pernah menjadi kepanitian kegiatan, kemudian menyewa
tempat yang harganya ‘waw’. Transaksi terjadi dan kami mendapatkan kwitansi
sebagai bukti pembayaran. Kemudian ketua
pelaksana kegiatan meminta saya untuk meminta lagi kwitansi kosong ke pemilik
tempat yang disewa. Dengan polos saya menurutinya. Sungguh perbuatan tidak terpuji
sang ketua menuliskan kembali harga sewa dua kali lipat ke kwitansi kosong
tersebut. Alasannya, agar kami dapat uang kas lebih dari kegiatan ini, demi
kepentingan kesejahteraan ormawa ini.
Apa
yang salah? Kenapa mahasiswa yang harusnya sebagai agen perubahan namun merusak
dengan kelakuan tidak terpuji tersebut? Apakah terpaksa, karena ada sistem dari
pihak petinggi sehingga membuat mahasiswa melakukan hal tersebut demi
kesejahteraan ormawanya?
Miris,
dua contoh yang saya alami dengan pelakunya dari masyarakat dan mahasiswa.
Tidak heran jika terjadi korupsi di luar sana, terjadi jika kedua belah pihak
saling mendukung untuk memperoleh keuntungan dengan cara yang salah. Bedanya,
mahasiswa disini berkorupsi untuk mensejahterakan ormawa yang dimasukinya,
sedangkan yang di luar sana untuk keluarganya. Namun apapun tujuannya, tetap
saja salah metodanya.
Hal
ini yang saya sayangkan, mahasiswa masuk ormawa yang ini ataupun yang itu untuk
memperoleh pengalaman berorganisasi, memperoleh softkill yang tidak diperoleh
dalam bangku kuliah, dan sejenisnya. Namun nyatanya, tidak hanya itu saja yang
mereka peroleh, hal pahit pun harus mereka jalani, sampai harus melakukan yang
seharusnya tidak dilakukan. Sehingga tidak banyak mahasiswa mau masuk ormawa
karena tidak mensejahterakan mereka. Tapi tergantung pribadi masing-masing,
karena tidak ada sesuatu pun yang dapat diperoleh secara instan, harus ada
sedikitnya pengorbanan. Karena dalam berorganisasi, pasti ada sedikitnya
pengorbanan waktu, tenaga, bahkan harta. Jangan kaget jika ada suatu organisasi
mengadakan kegiatan sampai menggadaikan sesuatu barang pribadinya demi
lancarnya acara tersebut, karena memang tidak dipungkiri, bahwa segalanya butuh
dana. Jika organisasi dianalogikan negara, dan pengurus organisasi tersebut
dianalogikan menteri-menteri negara, alangkah hebatnya, terpujinya negara
tersebut yang mempunyai menteri yang rela mengeluarkan hartanya demi
kesejahteraan masyarakatnya, bukan memakan kesejahteraan masyarakatnya.
Ingatlah,
hal yang terjadi dalam ormawa terutama dalam kesejahteraan merupakan rintangan
kecil. Jika dibandingkan saat terjun di masyarakat, lebih kompleks. Oleh karena
itu jika dalam berormawa saja sudah melakukan korupsi atau kecurangan,
bagaimana saat terjun di masyarakat nanti? Apa bedanya dengan orang-orang
berkorupsi kelas kakap?
Jujur
dalam hal apapun, untuk diri sendiri, ataupun menjadi contoh untuk orang lain
itu sangat penting, sebagai modal dasar agen of change, sosial control, dan
iron stock. Hidup Mahasiswa Jujur !



