Senin, 07 Mei 2012

Jujur, Hal Mudah Namun Sulit

,
Untuk kali ini, mungkin terasa berbeda dari segi bahasa maupun cerita yang  saya (hehe, kali ini pakai kata 'saya' saja yaa) tulis, tulisan ini saya tulis ketika mau menjadi pengurus BEM REMA UPI, salah satu syarat untuk ikut  kepengurusan ini yaitu harus mengumpulkan karya tulis dengan tema "persoalan ormawa pada saat ini" . Nah, dari pada tulisanku ini dikonsumsi hanya untuk panitia formatur kepanitiaan pengurus BEM REMA, dan selalu disimpan di laptop nanti basi, ya udah disimpan di sini saja. hehe ... berikut tulisankuuu.. hehe
Isu ormawa di kampus sebenarnya banyak sekali. Dari yang terhot bahkan sampai tercool sekalipun ada. Namun, bukan dari masalahnya saja yang patut kita bicarakan atau bahkan dikembangbiakan sampai tidak terhenti, akan tetapi solusi apa yang kita punya untuk meredam, mereduksi, mengeliminasi dan sejenisnya sebagai mahasiswa. Tidak dipungkiri jika ada sebagian mahasiswa yang tidak peduli akan ormawa yang beredar di kampus. Tergantung orang yang memandangnya, apakah ormawa tersebut sebagai wadah inspirasi mahasiswa atau hanya kumpulan yang dapat mengganggu akademik saja.
Saya bukan dari jurusan dari akutansi ataupun ekonomi dan sejenisnya, namun saya lebih tertarik untuk membicarakan masalah kesejahteraan mahasiswa dalam ber-ormawa khususnya dalam masalah uang atau agar lebih indah kita sebut dana. Untuk masalah dana memang sangat sensitif. Tidak jarang ada aksi mahasiswa terkait dana.
Saya kebetulan pernah mengikuti  beberapa ormawa di kampus ini. Jika disorot tentang keuangannya, tiap ormawa berbeda-beda dalam mendapatkannya, mengolahnya ataupun dalam menggunakannya. Ada yang bersusah payah mengadakan kegiatan untuk warganya sekalipun tidak ada dana. Ada yang adem ayem melaksanakan kegiatan karena dana memang selalu ada. Ada yang susah payah membuat kegiatan yang menurut saya itu tidak penting dengan tujuan untuk menghabiskan dana.
Sistem keuangan yang diberlakukan oleh petinggi ke ormawa kurang lebih dua tahun yang lalu, menurut saya sangat memberatkan mahasiswa, dan terlihat tidak ada-nya kepercayaan terhadap mahasiswa, yang diberlakukan sistem pengambilan uang IUK maru dengan bertahap. Takut dikorupsikah? Berapa rupiahkah yang mampu mahasiswa korupsi?
Untuk pelaporan pengeluaran keuangan tahun demi tahun ada perubahan, menuntut agar mahasiswa bertanggungjawab apa yang mereka lakukan terhadap uang yang bukan seluruhnya haknya, menuntut agar transparan dalam transaksi menggunakan dana tersebut. Namun, apakah para petinggi melakukan hal yang sama? Sedetail mahasiswa kah? Apakah kwitansi atau bon yang dilampirkan benar-benar asli?
Bicara tentang bon atau faktur belanja, saya pernah fotokopi sesuatu, untuk keperluan ormawa di tempat fotokopian yang tempatnya selalu ramai karena lokasinya dekat dengan salah satu gedung fakultas yang ada di UPI ini. Ketika itu saya menawar harga, dari Rp. 12.000  saya tawar menjadi Rp. 10.000 dengan usaha jungkir balik agar dapat potongan harga. Setelah beberapa menit kemudian akhirnya berhasil saya tawar. Saya meminta untuk dituliskan di bon, sebagai bukti belanja. Namun apa yang terjadi? Tukang fotokopian tersebut menuliskan Rp. 12.000 , protes saya lakukan. “Bayarnya ya sepuluh ribu aja Teh” kata tukang fotokopian tersebut. Astagfirullah.. secara tidak langsung tukang fotokopian tersebut mengajarkan pembelinya berkorupsi, atau memang terbiasa ketika mendapati pembeli yang tawar-menawar lalu memakai bon, tujuannya kearah agar si pembeli dapat keuntungan lebih dari bon tersebut. Saat itu saya membuat malu tukang fotokopian terhadap apa yang ia lakukan, semoga jera.
Tidak hanya itu saja, saya pernah menjadi kepanitian kegiatan, kemudian menyewa tempat yang harganya ‘waw’. Transaksi terjadi dan kami mendapatkan kwitansi sebagai  bukti pembayaran. Kemudian ketua pelaksana kegiatan meminta saya untuk meminta lagi kwitansi kosong ke pemilik tempat yang disewa. Dengan polos saya menurutinya. Sungguh perbuatan tidak terpuji sang ketua menuliskan kembali harga sewa dua kali lipat ke kwitansi kosong tersebut. Alasannya, agar kami dapat uang kas lebih dari kegiatan ini, demi kepentingan kesejahteraan ormawa ini.
Apa yang salah? Kenapa mahasiswa yang harusnya sebagai agen perubahan namun merusak dengan kelakuan tidak terpuji tersebut? Apakah terpaksa, karena ada sistem dari pihak petinggi sehingga membuat mahasiswa melakukan hal tersebut demi kesejahteraan ormawanya?
Miris, dua contoh yang saya alami dengan pelakunya dari masyarakat dan mahasiswa. Tidak heran jika terjadi korupsi di luar sana, terjadi jika kedua belah pihak saling mendukung untuk memperoleh keuntungan dengan cara yang salah. Bedanya, mahasiswa disini berkorupsi untuk mensejahterakan ormawa yang dimasukinya, sedangkan yang di luar sana untuk keluarganya. Namun apapun tujuannya, tetap saja salah metodanya.
Hal ini yang saya sayangkan, mahasiswa masuk ormawa yang ini ataupun yang itu untuk memperoleh pengalaman berorganisasi, memperoleh softkill yang tidak diperoleh dalam bangku kuliah, dan sejenisnya. Namun nyatanya, tidak hanya itu saja yang mereka peroleh, hal pahit pun harus mereka jalani, sampai harus melakukan yang seharusnya tidak dilakukan. Sehingga tidak banyak mahasiswa mau masuk ormawa karena tidak mensejahterakan mereka. Tapi tergantung pribadi masing-masing, karena tidak ada sesuatu pun yang dapat diperoleh secara instan, harus ada sedikitnya pengorbanan. Karena dalam berorganisasi, pasti ada sedikitnya pengorbanan waktu, tenaga, bahkan harta. Jangan kaget jika ada suatu organisasi mengadakan kegiatan sampai menggadaikan sesuatu barang pribadinya demi lancarnya acara tersebut, karena memang tidak dipungkiri, bahwa segalanya butuh dana. Jika organisasi dianalogikan negara, dan pengurus organisasi tersebut dianalogikan menteri-menteri negara, alangkah hebatnya, terpujinya negara tersebut yang mempunyai menteri yang rela mengeluarkan hartanya demi kesejahteraan masyarakatnya, bukan memakan kesejahteraan masyarakatnya.
Ingatlah, hal yang terjadi dalam ormawa terutama dalam kesejahteraan merupakan rintangan kecil. Jika dibandingkan saat terjun di masyarakat, lebih kompleks. Oleh karena itu jika dalam berormawa saja sudah melakukan korupsi atau kecurangan, bagaimana saat terjun di masyarakat nanti? Apa bedanya dengan orang-orang berkorupsi kelas kakap?
Jujur dalam hal apapun, untuk diri sendiri, ataupun menjadi contoh untuk orang lain itu sangat penting, sebagai modal dasar agen of change, sosial control, dan iron stock. Hidup Mahasiswa Jujur !

0 komentar to “Jujur, Hal Mudah Namun Sulit”

Posting Komentar

 

MaMah (Mahasiswa musliMah) punya cerita Copyright © 2011 | Template design by O Pregador | Powered by Blogger Templates